Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Istana Kremlin, Moskwa. Dalam pertemuan tersebut, Prabowo menyampaikan terima kasih atas berbagai dukungan Rusia kepada Indonesia, termasuk terkait aksesi keanggotaan Indonesia di BRICS.
Prabowo juga menyebut kunjungannya ke Moskwa berkaitan dengan situasi geopolitik saat ini. Ia mengatakan perlu berkonsultasi dengan Rusia sekaligus mempererat kerja sama, terutama di bidang ekonomi dan energi.
Pada hari yang sama, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin bertemu dengan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth di Pentagon. Dalam pertemuan itu, Indonesia dan Amerika Serikat sepakat membentuk kemitraan kerja sama pertahanan utama.
Kesepakatan kemitraan tersebut mencakup modernisasi militer dan pembangunan kapasitas, pelatihan dan pendidikan militer profesional, serta pelatihan dan kerja sama operasional.
Di media sosial sempat beredar isu bahwa pertemuan Sjafrie dan Hegseth juga membahas pemberian akses perlintasan bagi militer Amerika Serikat di wilayah udara Indonesia atau overflight clearance. Namun, Kementerian Pertahanan menyatakan hal itu tidak termasuk dalam perjanjian.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan, Rico Ricardo Sirait, melalui pesan tertulis menegaskan proposal overflight clearance tidak masuk dalam kerja sama MDCP yang disepakati Indonesia dan Amerika Serikat.
Sebelumnya, Kementerian Pertahanan juga menekankan bahwa seluruh kerja sama pertahanan dengan negara lain harus memberikan manfaat bagi Indonesia dan tidak melanggar prinsip kedaulatan negara.
Sejumlah pihak kemudian menyoroti dinamika diplomasi Indonesia di tengah perkembangan geopolitik. Pembahasan mengenai arah diplomasi ini turut menghadirkan dosen ilmu politik Universitas Udayana, Efatha Filomeno Borromeu Duarte, serta Mahfudz Siddiq, Ketua Komisi I DPR RI periode 2010–2017 yang kini menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Partai Gelora.