Piala Dunia FIFA 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, disebut menghadapi sejumlah tantangan seiring situasi global yang masih diwarnai konflik di beberapa wilayah.
Edisi 2026 menjadi sorotan karena untuk pertama kalinya Piala Dunia akan diikuti 48 negara peserta. Penambahan jumlah tim ini membuat skala kompetisi lebih besar dibandingkan edisi sebelumnya, sekaligus menuntut kesiapan penyelenggaraan yang lebih kompleks.
Pengamat sepak bola Sulawesi Selatan, Mirdan Midding, menilai konflik global berpotensi memengaruhi berbagai aspek turnamen, mulai dari keamanan, mobilitas tim, hingga antusiasme penonton dari berbagai negara. Karena itu, ia menekankan pentingnya langkah antisipatif agar seluruh pertandingan berjalan aman dan profesional sesuai standar FIFA.
“Sepak bola tidak boleh kehilangan esensinya sebagai olahraga yang menyatukan. Semua pihak harus menjaga agar turnamen ini tetap berjalan dalam semangat fair play dan tidak terpengaruh kepentingan politik,” kata Mirdan, Sabtu, 18 April 2026.
Ia juga menambahkan bahwa prinsip netralitas olahraga perlu dijaga agar kompetisi tetap kredibel dan tidak memunculkan polemik di tingkat internasional.
Selain isu keamanan, faktor kesiapan infrastruktur serta koordinasi lintas negara turut menjadi perhatian dalam penyelenggaraan turnamen yang digelar di tiga negara. Kolaborasi antara Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada dinilai membutuhkan sinergi yang kuat agar seluruh rangkaian pertandingan dapat berlangsung lancar.
Di sisi lain, format 48 peserta membuka peluang lebih besar bagi negara-negara berkembang untuk tampil di panggung dunia. Hal tersebut dipandang dapat memperluas representasi global sekaligus menambah daya tarik kompetisi.
Dengan berbagai dinamika yang ada, Piala Dunia 2026 diharapkan tetap mampu menghadirkan pertandingan berkualitas tinggi sekaligus menjadi ruang interaksi global yang positif.