Perundingan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) di Islamabad dipandang sebagai momen krusial yang dapat menentukan arah perdamaian. Namun, sejak awal prosesnya sudah dibayangi ketegangan karena Iran bersikeras mengajukan sejumlah syarat sebelum pembicaraan resmi dimulai.
Dikutip dari Reuters, Sabtu, 11 April 2026, Iran menyampaikan beberapa tuntutan utama. Salah satunya, gencatan senjata diminta tidak hanya berlaku antara Iran dan AS, tetapi juga mencakup konflik di Lebanon. Selain itu, Teheran meminta agar aset-aset mereka yang selama ini dibekukan segera dicairkan.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menyatakan Washington telah menyetujui tuntutan tersebut. Karena itu, Iran menolak memulai negosiasi sebelum janji tersebut benar-benar ditepati.
Delegasi Iran yang hadir disebut berjumlah besar, sekitar 70 orang, terdiri dari berbagai ahli. Komposisi ini dinilai mencerminkan sensitifnya isu yang dibahas dan kompleksitas perundingan yang akan berlangsung.
Di pihak AS, Presiden Donald Trump menunjukkan sikap tegas dengan menekan Iran agar segera mencapai kesepakatan. “Satu-satunya alasan mereka masih bertahan hingga hari ini adalah untuk bernegosiasi,” ujarnya.
Wakil Presiden JD Vance yang memimpin delegasi AS menyampaikan optimisme, namun disertai peringatan. Ia menegaskan bahwa jika Iran mencoba mempermainkan proses ini, AS tidak akan bersikap lunak.
Sementara itu, Iran menyatakan tetap terbuka untuk mencapai kesepakatan, meski mengaku belum sepenuhnya percaya kepada Washington.
Sebelumnya, gencatan senjata selama dua minggu sempat meredakan situasi dengan menghentikan serangan udara AS dan Israel terhadap Iran. Namun ketegangan belum sepenuhnya mereda. Iran masih memblokade Selat Hormuz, sementara konflik antara Israel dan Hizbullah di Lebanon terus berlangsung.
Serangan Israel di Lebanon selatan dilaporkan berlanjut. Setelah pengumuman gencatan senjata, serangan besar disebut menewaskan lebih dari 350 orang. Serangan terbaru juga menghantam gedung pemerintah di Nabatieh dan menewaskan 13 anggota pasukan keamanan Lebanon.
Sebagai balasan, Hizbullah menembakkan roket ke wilayah Israel utara. Sejak awal Maret, hampir 2.000 orang dilaporkan tewas akibat konflik di Lebanon.
Di tengah situasi tersebut, pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, mengambil sikap tegas. Ia menuntut kompensasi atas kerusakan akibat perang serta memperingatkan bahwa pihak yang menyerang Iran tidak akan dibiarkan tanpa konsekuensi.
Konflik juga berdampak pada ekonomi global. Gangguan di Selat Hormuz menghambat pasokan energi, mendorong kenaikan harga, dan meningkatkan inflasi. Data terbaru menunjukkan inflasi di AS naik 0,9 persen pada Maret—kenaikan tercepat sejak 2022—yang disebut menjadi indikator dampak konflik terhadap ekonomi dunia.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menggambarkan negosiasi kali ini sebagai fase yang sangat menentukan. Ia menyebutnya sebagai tahap “hidup atau mati”, yang akan menentukan apakah konflik mereda atau justru kembali memanas dalam waktu dekat.