Atmosfer diplomatik di Islamabad, Pakistan, menghangat seiring kedatangan delegasi Iran untuk menjalani perundingan penting dengan Amerika Serikat. Pertemuan ini dipandang berpotensi menjadi titik balik bagi konflik yang telah berlangsung sekitar enam pekan terakhir, meski prospek terobosan cepat masih menghadapi hambatan.
Iran datang dengan syarat yang disebut tidak dapat ditawar. Mengacu pada laporan Reuters, Sabtu (11/4/2026), Teheran menuntut perluasan cakupan gencatan senjata agar tidak hanya berlaku dalam konteks Iran dan AS, tetapi juga mencakup teater konflik di Lebanon. Selain itu, Iran mendesak pencairan aset-aset negara yang selama ini dibekukan oleh otoritas internasional sebagai bagian dari pemulihan ekonomi.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menyatakan Washington telah menyetujui tuntutan tersebut. Atas dasar itu, Iran menolak memulai negosiasi sebelum janji itu benar-benar dipenuhi.
Keseriusan Teheran tercermin dari komposisi delegasi yang disebut mencapai 70 orang, termasuk tim ahli, yang mengindikasikan kompleksitas teknis pembahasan. Di pihak AS, Presiden Donald Trump melontarkan pernyataan bernada menekan, dengan mengatakan bahwa “satu-satunya alasan mereka masih bertahan hingga hari ini adalah untuk bernegosiasi.”
Wakil Presiden JD Vance yang memimpin delegasi AS menyampaikan optimisme, namun disertai peringatan bahwa Washington tidak akan bersikap lunak apabila Iran dinilai mempermainkan proses perundingan.
Di tengah upaya dialog, ketidakpercayaan masih membayangi. Sebelumnya, gencatan senjata singkat selama dua pekan sempat menghentikan serangan udara AS dan Israel di wilayah Iran, tetapi situasi di lapangan tetap tegang. Iran hingga kini masih memblokade Selat Hormuz, yang berdampak pada jalur perdagangan global. Sementara itu, ketegangan di front barat, khususnya antara Israel dan Hizbullah di Lebanon, disebut semakin meningkat.
Di Lebanon selatan, agresi Israel dilaporkan meningkat setelah pengumuman gencatan senjata, dengan korban lebih dari 350 jiwa. Serangan udara terbaru yang menghantam pusat pemerintahan di Nabatieh dilaporkan menewaskan 13 personel keamanan Lebanon. Jumlah korban sejak awal Maret disebut mendekati 2.000 jiwa.
Hizbullah dilaporkan terus meluncurkan roket ke wilayah utara Israel. Di tengah eskalasi itu, pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, menyampaikan sikap yang lebih keras dengan menuntut kompensasi atas kerusakan perang dan memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap kedaulatan Iran akan dibalas dengan konsekuensi yang menghancurkan.
Kebuntuan diplomasi juga merembet ke perekonomian global. Penutupan Selat Hormuz disebut memutus pasokan energi dunia, memicu kenaikan harga komoditas dan tekanan inflasi. Data terbaru menunjukkan inflasi di Amerika Serikat naik 0,9 persen sepanjang Maret, yang disebut sebagai laju tercepat dalam empat tahun.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menilai perundingan di Islamabad sebagai fase “hidup atau mati” yang akan menentukan apakah dunia bergerak menuju de-eskalasi atau justru terseret ke perang besar yang tak terkendali.