Perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan gagal mencapai kesepakatan. Kedua pihak saling menyalahkan atas kegagalan tersebut. Pertemuan yang berlangsung di Islamabad sebelumnya dipandang sebagai pintu masuk untuk mengakhiri perang di Timur Tengah. Namun, tanpa adanya kesepakatan, perang diperkirakan akan terus berlanjut, dengan dampak lanjutan berupa terganggunya pasokan minyak dunia dan meningkatnya risiko kehancuran kawasan.
Di tengah kabar itu, narasi reflektif muncul melalui percakapan tokoh wayang di padepokan Klampis Ireng. Petruk menilai kegagalan perundingan terjadi karena masing-masing pihak ingin menang sendiri dan merasa paling benar. Sementara Semar memilih tidak berkomentar panjang mengenai dinamika geopolitik tersebut, karena tengah diliputi keprihatinan atas tertangkapnya Bupati Tulungagung dalam operasi tangkap tangan (OTT) KPK pekan lalu, yang disebut menambah daftar kepala daerah terjerat korupsi.
Semar kemudian teringat kisah Mahabharata, ketika Prabu Drupada—raja Kerajaan Pancala—gagal menjalankan misi diplomasi antara Pandawa dan Kurawa. Meski Pancala bukan kerajaan terbesar dibanding Wirata atau Hastina, keberadaannya digambarkan disegani dalam percaturan politik.
Dalam hubungan keluarga, Drupada merupakan mertua Pandawa karena putrinya, Dewi Drupadi, menikah dengan Prabu Puntadewa. Dengan posisi itu, ia memikul tanggung jawab moral untuk meminta kembali separuh Kerajaan Hastina dan Amarta yang dikuasai Kurawa. Penunjukan Drupada sebagai duta Pandawa juga disebut telah disetujui Prabu Matswapati, raja Wirata, tempat Pandawa menjalani masa pengasingan setelah kalah bermain dadu.
Drupada datang ke Hastina untuk berunding dengan Prabu Duryudana. Tugasnya jelas: meminta pengembalian Kerajaan Amarta dan separuh Hastina sesuai perjanjian, setelah Pandawa menjalani hukuman hidup di hutan selama dua belas tahun. Namun, upaya negosiasi itu tidak mendapat sambutan baik. Kedatangan Drupada justru dianggap menghina kehormatan Duryudana dan memperumit persoalan.
Duryudana menolak mengembalikan Amarta dan separuh Hastina. Ia menegaskan pengembalian wilayah hanya bisa ditempuh melalui perang tanding. Pandawa, menurutnya, baru berhak mendapatkan kembali Amarta jika mampu mengalahkan Kurawa dalam perang Baratayuda.
Petruk menyimpulkan misi perdamaian antara Pandawa dan Kurawa gagal total. Semar menimpali singkat bahwa Duryudana merasa paling unggul dibanding utusan Pandawa. Dari kisah itu, Semar menarik pelajaran mengenai syarat dasar perundingan: pihak-pihak yang berunding harus berada dalam posisi setara dan tidak saling merendahkan. Selain itu, kepercayaan menjadi kunci. Tanpa saling percaya, perundingan disebut sulit menghasilkan kesepakatan.