ISLAMABAD — Pakistan bersiap menggelar pertemuan tingkat tinggi antara delegasi Amerika Serikat dan Iran pada Sabtu ini. Kedua rombongan, atau salah satunya, dikabarkan akan mendarat dalam waktu dekat dan diarahkan tiba di Pangkalan Udara Nur Khan, sebuah markas militer yang lebih dikenal sebagai lokasi aktivitas penerbangan militer ketimbang kunjungan diplomatik.
Dari pangkalan tersebut, delegasi dijadwalkan dibawa ke kawasan Red Zone (Zona Merah), area paling steril di Islamabad yang menjadi pusat pemerintahan. Pengamanan diperketat dan akses dibatasi ketat, sementara detail lokasi perundingan dirahasiakan. Waktu kedatangan pun dibuat tidak jelas, seiring upaya otoritas setempat membatasi informasi yang beredar.
Sejumlah langkah pengamanan dan kerahasiaan disebut diterapkan, mulai dari pembatasan pergerakan jurnalis di titik-titik strategis hingga komunikasi pejabat Pakistan yang disampaikan secukupnya. Di sekitar lokasi pertemuan yang disebut-sebut berada di kawasan Red Zone dekat kompleks pemerintah, barikade, kendaraan lapis baja, dan aparat berseragam menjadi pemandangan utama.
Di tengah situasi yang serba tertutup itu, peran kantor Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dinilai penting dalam menyiapkan pertemuan. Tim khususnya diyakini merumuskan dokumen awal yang merangkum tuntutan dan kepentingan masing-masing pihak, serta mencari kemungkinan titik temu di antara dua negara yang kerap berseberangan dalam berbagai isu kawasan.
Agenda pembicaraan tidak hanya berkisar pada seruan umum untuk menghentikan konflik. Amerika Serikat disebut membawa sejumlah syarat, termasuk pembatasan ketat terhadap program nuklir Iran, jaminan keamanan jalur energi—terutama di Selat Hormuz—serta komitmen Iran untuk menahan pengaruh militernya di kawasan, termasuk di Lebanon.
Sementara itu, Iran disebut datang dengan rencana 10 poin yang memuat tuntutan penghentian total sanksi, pencairan aset yang dibekukan, jaminan tidak ada lagi serangan militer, hingga pengakuan atas hak kedaulatan penuh, termasuk pengembangan teknologi nuklir sipil. Tuntutan tersebut digambarkan sebagai bagian dari ingatan panjang Iran atas tekanan dan isolasi yang dialaminya selama puluhan tahun.
Dalam konteks ini, perundingan dipandang sebagai ujian kejujuran kedua pihak. Jika tuntutan Iran ditolak sepenuhnya, optimisme yang tersisa dikhawatirkan runtuh dan pertemuan dipersepsikan hanya sebagai formalitas sebelum ketegangan berlanjut dalam bentuk yang lebih keras.
Dari Washington, delegasi Amerika Serikat dipimpin oleh JD Vance. Dari Teheran, nama Mohammad Bagher Ghalibaf dan Abbas Araghchi disebut sebagai bagian dari delegasi. Ghalibaf digambarkan membawa latar militer dan politik, sementara Araghchi dikenal sebagai diplomat berpengalaman.
Meski masih ada harapan bahwa jalur perundingan dapat menjadi pilihan yang dianggap lebih rendah biayanya dibanding opsi lain, pesimisme juga menguat karena rekam jejak perundingan AS-Iran yang kerap diwarnai ketidakpercayaan. Di luar ruang diplomasi, situasi kawasan turut membayangi proses ini, termasuk serangan Israel ke Lebanon yang disebut menewaskan ratusan warga sipil dan memicu reaksi internasional berupa kecaman serta seruan menahan diri.
Dengan latar ketegangan yang belum sepenuhnya mereda, pertemuan di Islamabad dipandang lebih dari sekadar dialog dua negara. Hasilnya akan menjadi penentu apakah diplomasi masih mampu membuka jalan keluar di tengah konflik yang berlangsung, atau kembali menjadi episode lain dalam panjangnya kegagalan membangun kepercayaan.