Jakarta—PT Pertamina Trans Kontinental (PTK) meraih Sertifikasi ISO 50001 Energy Management System (EnMS) untuk lingkup kantor dan kapal, setelah menjalani rangkaian implementasi sepanjang 2025 dan memperoleh sertifikasi pada Kuartal I 2026.
Penganugerahan sertifikasi yang dirangkaikan dengan program upskilling Sistem Manajemen Energi tersebut digelar pada Jumat, 23 Januari 2026, di Kantor Pusat PTK, Jakarta. Acara ini dihadiri jajaran Direksi PT Pertamina International Shipping (PIS) selaku induk Subholding Integrated Marine Logistics (SH IML), Direksi PTK, serta perwakilan lembaga sertifikasi.
PTK menyatakan capaian ini menjadikannya entitas pertama di lingkungan SH IML yang memperoleh Sertifikasi ISO 50001, dengan tingkat penyelesaian program 100%. Tahapan yang ditempuh mencakup gap analysis, finalisasi kebijakan energi, pelatihan, audit internal, hingga audit eksternal.
Menurut perusahaan, sertifikasi ISO 50001 menjadi bagian dari transformasi pengelolaan energi untuk mendukung keandalan, efisiensi, dan keberlanjutan operasional armada. Implementasi dilakukan melalui penetapan baseline energi, pemantauan kinerja energi (Energy Performance Indicator/EnPI), identifikasi Significant Energy Use, serta audit internal yang mencatat 0 temuan mayor, 10 temuan minor, dan 19 positive findings.
Direktur Manajemen Risiko PT Pertamina International Shipping, Eka Suhendra, menyebut penerapan ISO 50001 di PTK sebagai langkah strategis untuk memperkuat ketahanan bisnis Subholding Integrated Marine Logistics. Ia menilai sistem manajemen energi berstandar internasional tidak hanya berdampak pada efisiensi konsumsi energi, tetapi juga meningkatkan keandalan armada, menurunkan risiko operasional, serta memperkuat kepatuhan terhadap regulasi dan praktik terbaik global.
Sementara itu, Direktur Utama PT Pertamina Trans Kontinental, I Ketut Laba, menekankan bahwa pencapaian sertifikasi merupakan hasil komitmen kolektif seluruh insan PTK dalam membangun budaya efisiensi energi dan keselamatan. Ia menyatakan pengelolaan energi dipandang tidak semata penghematan, melainkan bagian dari upaya memastikan kapal beroperasi secara andal, aman, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat pengelolaan kinerja energi agar layanan lebih pasti dan efisien.
Dari sisi bisnis, PTK menyampaikan penerapan sistem manajemen energi berstandar ISO 50001 memberikan nilai tambah bagi klien dan calon klien melalui efisiensi penggunaan energi serta pengendalian kinerja operasional. Dampaknya dinilai berhubungan dengan peningkatan keandalan kapal, penurunan risiko gangguan operasi, dan optimalisasi biaya energi di armada maupun fasilitas darat, yang pada akhirnya mendukung kelancaran rantai pasok energi nasional.
CEO KRQA-SQC Certification Services, Dr. Ir. Karolus Karni Lando, MBA, mengapresiasi komitmen PTK dalam mengadopsi standar internasional pengelolaan energi. Ia menyatakan sertifikasi ISO 50001 menunjukkan kedewasaan sistem manajemen dan kepemimpinan perusahaan dalam mengelola energi secara sistematis, berbasis risiko, dan berorientasi pada perbaikan berkelanjutan.
PTK juga menilai implementasi ISO 50001 berkontribusi pada agenda keberlanjutan dan perlindungan lingkungan melalui pengelolaan energi yang lebih efisien dan terukur, yang disebut berdampak pada penurunan emisi dan optimalisasi konsumsi energi. Dengan integrasi sistem antara kantor dan armada, perusahaan menyebut dapat memantau kinerja energi secara komprehensif, mengendalikan risiko operasional, serta mendorong perbaikan berkelanjutan melalui audit berkala dan penguatan kompetensi sumber daya manusia melalui program upskilling.
Sebagai entitas pertama di lingkungan SH IML yang memperoleh Sertifikasi ISO 50001, PTK menyatakan pencapaian ini memperkuat posisinya sebagai rujukan penerapan Sistem Manajemen Energi di sektor jasa maritim nasional, sekaligus menegaskan komitmen untuk menghadirkan layanan yang andal, efisien, dan berkelanjutan.

