Pasar yang sempat menangkap sinyal meredanya ketegangan hubungan Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok kembali dibuat waspada setelah pernyataan Pejabat Perwakilan Dagang AS, Greer. Dalam wawancara dengan CNBC, Greer menegaskan bahwa “tidak semua tantangan dengan Tiongkok terselesaikan,” sekaligus menyinggung potensi keterlibatan Tiongkok dengan Iran yang disebut dapat memperumit hubungan kedua negara.
Dalam beberapa waktu terakhir, AS dan Tiongkok terlihat berupaya membuka kembali jalur komunikasi di tengah berbagai isu sensitif, termasuk teknologi, Taiwan, dan perdagangan. Upaya tersebut sempat memunculkan kesan bahwa kedua pihak berusaha menjaga stabilitas, setidaknya di ruang publik. Namun, pernyataan Greer memberi sinyal bahwa persoalan mendasar masih membayangi, mulai dari isu tarif, sengketa kekayaan intelektual, hingga praktik perdagangan yang selama ini dipersoalkan Washington.
Selain itu, Greer juga menyinggung hubungan Tiongkok dengan Iran. Ia menyatakan bahwa apabila Tiongkok terlibat dengan Iran, hal itu “jelas mempersulit hubungan.” Greer tidak merinci bentuk maupun tingkat keterlibatan yang dimaksud, tetapi penyebutan Iran dalam konteks hubungan AS–Tiongkok dinilai cukup untuk meningkatkan perhatian pelaku pasar. Iran sendiri berada dalam sorotan internasional dan menghadapi berbagai sanksi terkait program nuklirnya, sehingga keterlibatan negara besar seperti Tiongkok berpotensi memicu respons keras dari AS dan sekutunya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah langkah AS yang disebut sedang gencar merestrukturisasi rantai pasok global untuk mengurangi ketergantungan pada Tiongkok. Dalam konteks ini, komentar Greer dapat dipandang sebagai pengingat bahwa normalisasi hubungan tidak serta-merta menghapus kompleksitas dan potensi gesekan yang masih tersisa.
Di pasar keuangan, pernyataan bernada kehati-hatian seperti ini kerap mendorong pergeseran sentimen dari optimisme menuju sikap “risk-off” atau menghindari risiko. Dalam situasi ketidakpastian geopolitik, aset yang dianggap aman cenderung diburu. Dolar AS dan emas termasuk instrumen yang sering mendapat perhatian ketika tensi meningkat.
Tekanan juga dapat dirasakan pada aset yang sensitif terhadap prospek pertumbuhan global dan stabilitas perdagangan, termasuk saham perusahaan dengan eksposur besar terhadap Tiongkok melalui ekspor, impor, maupun rantai pasok. Perubahan sentimen tersebut berpotensi menular ke pergerakan indeks saham global dan memengaruhi dinamika pasar valuta asing.
Secara keseluruhan, komentar Greer menegaskan bahwa hubungan AS–Tiongkok tetap rapuh dan sarat isu. Meski komunikasi kedua negara sempat menunjukkan tanda pelunakan, pernyataan pejabat tinggi AS ini menjadi pengingat bahwa ketegangan perdagangan dan faktor geopolitik masih dapat kembali mendominasi perhatian pasar.