PT Bank Permata Tbk (BNLI) atau Permata Bank menegaskan tidak mengubah struktur maupun segmen bisnis pada 2026. Namun, perseroan tetap mencermati ketidakpastian global yang berpotensi memengaruhi perekonomian Indonesia, guna meminimalkan risiko.
Direktur Keuangan dan Unit Usaha Syariah Permata Bank Rudy Basyir Ahmad mengatakan fokus bank tetap diarahkan pada segmen korporasi, komersial, dan konsumer. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers usai public expose Permata Bank di Jakarta, Kamis, 12 Maret 2026.
Meski tidak ada perubahan fokus, Rudy menyebut Permata Bank terus memantau kondisi makroekonomi. Ia tidak menutup kemungkinan adanya penyesuaian pendekatan pada segmen tertentu seiring perkembangan kondisi ekonomi.
Menurutnya, evaluasi akan dilakukan berdasarkan dinamika di masing-masing segmen. Ia mencontohkan segmen konsumer yang pada tahun sebelumnya menghadapi lebih banyak tantangan, sehingga bank bersikap lebih selektif.
Rudy menambahkan, berbagai tantangan pada 2026 turut menjadi perhatian, mulai dari kondisi perekonomian Indonesia hingga geopolitik yang bergejolak, terutama di Timur Tengah. Ia mengatakan faktor-faktor tersebut perlu direspons secara optimal agar pertumbuhan bisnis tetap terjaga.
Dalam menghadapi situasi tersebut, Permata Bank menekankan penerapan prinsip kehati-hatian. Bank akan terus memperkuat manajemen risiko serta menjaga aspek prudensial dalam penyaluran kredit.
Sepanjang 2025, penyaluran kredit Permata Bank tumbuh 5,5% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp163,3 triliun. Kontribusi utama berasal dari segmen korporasi yang meningkat 11,2% YoY menjadi Rp99,6 triliun.
Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (NPL) gross tercatat stabil di level 2,1%, sementara Loan at Risk (LAR) membaik menjadi 6,3%.

