Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terus bergerak cepat, dari eskalasi militer hingga munculnya kembali peluang negosiasi. Situasi di Selat Hormuz, kebijakan sanksi, serta dinamika di kawasan—termasuk ketegangan Israel dan Lebanon—ikut memperumit peta konflik dan memicu dampak global, terutama pada energi dan ekonomi.
Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan putaran baru pembicaraan dengan Iran dapat berlangsung dalam waktu dekat. Dalam wawancara dengan New York Post, Trump menyebut kemungkinan perkembangan dalam “dua hari ke depan”, dengan Pakistan disebut sebagai kandidat lokasi pertemuan. Sejumlah sumber diplomatik menyatakan Pakistan tengah aktif berupaya mempertemukan kedua pihak, sementara agenda negosiasi juga mencakup upaya memperpanjang gencatan senjata dua minggu yang saat ini berlaku. Pembicaraan sebelumnya dilaporkan gagal pekan lalu ketika kedua negara bersitegang mengenai isu pengayaan uranium Iran.
Harapan terhadap meredanya konflik segera tercermin pada pasar keuangan. Bursa saham AS menguat, dengan indeks S&P 500 dan Nasdaq kembali ke level sebelum eskalasi konflik AS, Israel, dan Iran pada akhir Februari. Optimisme investor dipicu keyakinan bahwa jalur diplomasi mulai terbuka sehingga risiko gangguan besar terhadap ekonomi global dapat ditekan.
Berbanding terbalik, harga minyak dunia turun tajam. Minyak Brent tercatat di US$94,79 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$91,28 per barel. Penurunan ini dikaitkan dengan ekspektasi pasar bahwa Selat Hormuz—jalur penting yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia—berpotensi kembali beroperasi normal jika ketegangan mereda, setelah sebelumnya menjadi titik kritis akibat blokade dan risiko serangan militer.
Di sisi lain, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyampaikan kritik terbuka terhadap pergeseran fokus AS yang kini lebih tertuju pada konflik Iran. Dalam wawancara dengan penyiar Jerman ZDF, Zelensky menilai para negosiator AS “tidak punya waktu untuk Ukraina” karena intensif terlibat dalam pembicaraan terkait Iran. Ia juga menyebut tokoh seperti Steve Witkoff dan Jared Kushner yang sebelumnya aktif dalam diplomasi terkait Rusia kini lebih fokus pada isu Timur Tengah. Zelensky menegaskan, jika AS tidak menekan Presiden Rusia Vladimir Putin dan hanya terlibat dalam dialog yang lembut dengan Rusia, maka Rusia “tidak akan lagi takut”.
Meski peluang diplomasi mengemuka, Washington tetap memperkeras tekanan terhadap Teheran. Departemen Keuangan AS menyatakan tidak akan memperpanjang keringanan sanksi minyak yang sebelumnya diberikan secara terbatas. Kebijakan tersebut sempat memungkinkan penjualan minyak Iran yang sudah berada di laut untuk mengurangi guncangan pasokan global. Otorisasi jangka pendek itu disebut akan berakhir dalam beberapa hari dan tidak akan diperbarui, menandakan strategi “tekanan maksimum” masih berjalan meski jalur negosiasi kembali dibuka.
Ketegangan di kawasan juga belum mereda. Hizbullah dilaporkan meluncurkan serangan roket ke 13 kota di Israel utara, terjadi hanya beberapa saat setelah pembicaraan Israel-Lebanon dimulai di Washington. Serangan ini menegaskan adanya jurang antara jalur diplomasi dan kondisi militer di lapangan, sekaligus menempatkan Hizbullah—yang didukung Iran—sebagai aktor kunci dalam dinamika perbatasan Lebanon-Israel.
Sementara itu, militer AS melaporkan telah menghentikan enam kapal yang mencoba keluar dari pelabuhan Iran dalam 24 jam pertama sejak blokade laut diberlakukan sebagai bagian dari langkah Trump memblokade Selat Hormuz. Namun, data pelacakan maritim menunjukkan beberapa kapal masih dapat melintasi selat tersebut, mengindikasikan implementasi blokade menghadapi tantangan. Selat Hormuz merupakan jalur utama ekspor minyak dari negara-negara Teluk ke pasar global, dengan sekitar 20% minyak dunia melewatinya.
Di tengah perkembangan konflik, Trump juga melontarkan kritik terhadap Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni. Dalam wawancara dengan Corriere della Sera, Trump menyatakan kekecewaannya karena menilai Meloni tidak cukup mendukung upaya militer terhadap Iran. Pernyataan ini mencerminkan adanya perbedaan sikap di antara sekutu Barat terkait pendekatan menghadapi Iran, di mana sebelumnya Spanyol disebut mendukung China sebagai mediator perang AS-Iran.
Di sisi kemanusiaan, bantuan mulai masuk ke Iran. Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional mengonfirmasi pengiriman pasokan medis lintas perbatasan, yang disebut sebagai pengiriman pertama sejak konflik pecah. Masuknya bantuan ini menandai mulai terbukanya akses bagi warga sipil terdampak, di tengah kekhawatiran krisis kemanusiaan dapat memburuk jika perang berkepanjangan.
Dampak ekonomi turut menguat. Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan Timur Tengah dan Afrika Utara menjadi 1,1% pada 2026 dari sebelumnya 3,9%. IMF memperingatkan konflik telah mengganggu ekspor minyak dan gas, terutama dari negara-negara Teluk seperti Iran, Irak, dan Qatar. Gangguan distribusi energi melalui jalur utama seperti Selat Hormuz juga dinilai memperburuk prospek ekonomi. Meski demikian, IMF memperkirakan pemulihan dapat terjadi pada tahun berikutnya jika produksi energi dan sistem transportasi global kembali normal dalam beberapa bulan.
Di jalur diplomasi kawasan, Israel dan Lebanon menyepakati dimulainya pembicaraan langsung setelah “diskusi produktif” di Washington. Pertemuan yang berlangsung lebih dari dua jam itu dimediasi Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS menyatakan kedua pihak mencapai kesepahaman awal untuk membuka jalur komunikasi formal, dengan semua pihak sepakat memulai negosiasi langsung pada waktu dan tempat yang disepakati bersama. Meski demikian, situasi di lapangan dinilai masih rapuh, terutama karena keterlibatan kelompok bersenjata seperti Hizbullah.