BERITA TERKINI
Pergeseran Pertumbuhan Ekonomi Regional Kuartal II-2025: Sulawesi Tertinggi, Jawa dan Sumatera Hadapi Tantangan

Pergeseran Pertumbuhan Ekonomi Regional Kuartal II-2025: Sulawesi Tertinggi, Jawa dan Sumatera Hadapi Tantangan

Pertumbuhan ekonomi regional pada kuartal II-2025 menunjukkan pergeseran yang dinilai semakin signifikan. Sulawesi mencatat laju pertumbuhan tertinggi, ditopang hilirisasi tambang dan penguatan infrastruktur, sementara Jawa dan Sumatera menghadapi tantangan dalam menjaga momentum.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), M. Rizal Taufikurahman, mengatakan kinerja ekonomi regional mengindikasikan pergeseran sumbu pertumbuhan yang makin terdesentralisasi. Menurutnya, Sulawesi—khususnya Sulawesi Selatan—mencapai pertumbuhan tertinggi sebesar 5,83% pada periode tersebut.

Rizal menjelaskan, capaian Sulawesi didorong momentum hilirisasi tambang serta peningkatan infrastruktur pada industri berbasis nikel dan logam dasar. Keberadaan kawasan industri terintegrasi seperti Morowali disebut menjadi katalis pertumbuhan. Ia menilai, bila kebijakan industrialisasi dipadukan dengan eksekusi investasi secara nyata, wilayah di luar Jawa berpeluang menjadi sumber pertumbuhan baru.

Di sisi lain, Pulau Jawa disebut masih menunjukkan ketahanan, ditopang konsumsi rumah tangga yang stabil dan basis sektor jasa yang matang. Pertumbuhan ekonomi Jawa tercatat 5,24%, dengan kontribusi terbesar berasal dari DKI Jakarta sebesar 1,45%, disusul Jawa Timur 1,33% dan Jawa Barat 1,20%.

Adapun Sumatera mencatat pertumbuhan 4,96%. Kontribusi tertinggi datang dari Sumatera Utara sebesar 1,09% dan Riau 0,95%.

Rizal menilai data PDRB regional memperlihatkan adanya “capaian paradox”. Meski terdapat sinyal positif bahwa pembangunan tidak lagi semata Jawa-sentris, persoalan ketimpangan kualitas pertumbuhan antarwilayah dinilai masih kuat.

Ia menekankan, tingginya pertumbuhan di Sulawesi lebih mencerminkan aktivitas komoditas berbasis ekstraksi, bukan didorong ekspansi konsumsi atau pergeseran struktural yang mendalam. Kondisi ini membuat pertumbuhan rentan terhadap volatilitas harga global serta ketergantungan pada investor asing.

Sementara itu, Rizal mencatat pertumbuhan Jawa tetap terjaga, namun mulai kehilangan daya dorong akibat pasar domestik yang jenuh dan tekanan inflasi di sektor jasa. Sumatera juga diingatkan perlu bersiap menghadapi tekanan harga komoditas dan ketidakpastian ekspor.

Melihat tren hingga pertengahan tahun, Rizal memproyeksikan pertumbuhan ekonomi hingga akhir 2025 kemungkinan tetap berada pada jalur moderat di kisaran 4,7%–4,9%. Namun ia mengingatkan, angka agregat tersebut dapat menutupi disparitas spasial yang kian kentara.

Menurutnya, kawasan seperti Sulawesi dan sebagian Kalimantan berpotensi terus tumbuh tinggi berkat proyek strategis nasional dan hilirisasi tambang. Meski demikian, pertumbuhan tersebut berisiko bersifat enclave bila tidak dibarengi penguatan ekonomi lokal.

Rizal menutup dengan menekankan bahwa keberlanjutan pertumbuhan antarwilayah bergantung pada kemampuan mengubah keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif melalui inovasi dan diversifikasi sektor riil. Tanpa reformasi struktural yang lebih dalam, pertumbuhan berpotensi kehilangan momentum pada paruh kedua tahun ini.