WASHINGTON — Perbedaan tajam antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mengenai durasi pembatasan program nuklir menjadi hambatan utama dalam negosiasi yang berlangsung di tengah upaya meredakan konflik Timur Tengah. Perundingan ini berjalan beriringan dengan perkembangan lain di kawasan, termasuk kesepakatan gencatan senjata sementara antara Israel dan Lebanon.
AS dilaporkan mengusulkan penangguhan program pengayaan uranium Iran selama 20 tahun. Namun, Teheran hanya menyatakan kesediaan untuk menghentikan aktivitas nuklirnya selama lima tahun. Usulan tersebut ditolak oleh pejabat AS karena dinilai tidak cukup memberikan jaminan untuk mencegah pengembangan senjata nuklir.
Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan hak negara itu untuk memperkaya uranium sebagai sesuatu yang “tidak dapat disangkal”. Meski demikian, Iran disebut masih membuka ruang negosiasi terkait tingkat pengayaan. Iran juga berulang kali menyatakan program nuklirnya ditujukan untuk kepentingan sipil.
Di pihak AS, Presiden Donald Trump mengklaim terdapat perkembangan positif dalam pembicaraan. Ia menyebut Iran “telah setuju untuk menyerahkan debu nuklir kepada kita”, merujuk pada persediaan uranium yang diperkaya yang menurut AS dapat digunakan untuk membangun senjata nuklir. Trump juga menyatakan optimisme bahwa kesepakatan damai dengan Teheran berpeluang tercapai.
Sementara itu, Trump mengumumkan bahwa Israel dan Lebanon menyepakati gencatan senjata selama 10 hari, yang mulai berlaku pada Kamis petang waktu AS atau Jumat pagi WIB. Ia berharap para pemimpin kedua negara dapat bertemu di Gedung Putih dalam empat hingga lima hari untuk melanjutkan pembahasan damai.
Dari Lebanon, anggota parlemen Hizbullah Ibrahim al-Moussawi menyatakan kelompoknya akan mematuhi kesepakatan gencatan senjata tersebut dengan syarat serangan Israel dihentikan. Pernyataan itu dipandang membuka peluang meredanya ketegangan di salah satu front konflik yang melibatkan kelompok bersenjata yang didukung Iran.
Meski diplomasi berjalan, tekanan militer masih membayangi. AS sebelumnya mengancam akan melanjutkan serangan udara serta mempertahankan blokade Angkatan Laut terhadap pelabuhan Iran jika Teheran menolak kesepakatan yang diajukan.
Konflik yang pecah sejak 28 Februari dipicu oleh tuduhan AS bahwa Iran mempercepat pengembangan senjata nuklir. Namun, klaim tersebut disebut tidak didukung oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Situasi ini menunjukkan upaya menuju kesepakatan damai masih menghadapi tantangan besar di tengah perbedaan kepentingan mendasar di antara pihak-pihak terkait.