BERITA TERKINI
Perang Terbuka Iran dengan Israel dan AS Dinilai Menandai Gagalnya Diplomasi

Perang Terbuka Iran dengan Israel dan AS Dinilai Menandai Gagalnya Diplomasi

Dunia dikejutkan pada Sabtu pagi oleh kabar pecahnya perang terbuka di Timur Tengah. Serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel dilaporkan menyasar jantung pertahanan Iran, dengan rudal menghantam kawasan pinggiran Teheran dan sirene bahaya terdengar di berbagai penjuru Teluk.

Perkembangan ini dipandang bukan sekadar operasi militer, melainkan pukulan telak bagi upaya diplomasi yang telah dibangun bertahun-tahun. Retorika perdamaian yang sebelumnya mengemuka dalam perundingan di Jenewa pekan lalu kini dinilai tidak mampu mencegah eskalasi. Dalam konteks tersebut, kegagalan diplomasi disebut bukan hanya menjadi tanggung jawab para pihak yang berunding, tetapi juga mencerminkan rapuhnya sistem multilateralisme global dalam menjaga kedaulatan negara dari agresi militer.

Dalam pembacaan terhadap situasi ini, kegagalan diplomasi dinilai berakar pada ketidakmampuan aktor-aktor internasional keluar dari pola pikir “pemenang mengambil segalanya”. Presiden AS Donald Trump disebut mengedepankan pendekatan diplomasi yang transaksional dan penuh tekanan, dengan menempatkan ultimatum di atas dialog setara. Penetapan tenggat waktu yang ketat bagi Iran untuk menyerahkan seluruh program nuklirnya digambarkan sebagai langkah yang sejak awal berpotensi menemui jalan buntu.

Diplomasi, dalam pandangan tersebut, seharusnya menjadi upaya mencari kemungkinan di tengah kebuntuan, bukan mendorong lawan ke posisi tanpa pilihan. Ketika satu pihak merasa tidak memiliki jalan keluar yang terhormat, jalur kekerasan kerap muncul sebagai pilihan terakhir untuk mempertahankan eksistensi.

Di sisi lain, Teheran juga dinilai terjebak dalam retorika keras yang mempersempit ruang kompromi. Sikap mempertahankan program pengayaan uranium, meski berada di bawah tekanan ekonomi, disebut menunjukkan tingkat ketidakpercayaan yang mendalam terhadap niat Barat.

Namun, ketidakpercayaan itu disebut tidak muncul tanpa latar belakang. Penarikan diri Amerika Serikat secara sepihak dari perjanjian nuklir 2015 dinilai meninggalkan luka dalam sejarah diplomasi modern. Kepercayaan, yang kerap dianggap sebagai mata uang paling berharga dalam perundingan internasional, digambarkan berulang kali terkikis oleh kepentingan politik domestik, baik di Washington maupun di Teheran.

Kegagalan diplomasi ini juga dinilai menegaskan lemahnya peran lembaga internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, dalam mencegah konflik berskala besar. Dewan Keamanan PBB digambarkan tidak memiliki daya eksekusi memadai, sehingga lebih banyak terbatas pada pernyataan kecaman tanpa kemampuan menghentikan eskalasi. Ketika hukum internasional dipersepsikan hanya menjadi alat bagi yang kuat dan beban bagi yang lemah, stabilitas global disebut akan terus berada dalam posisi rentan.