BERITA TERKINI
Perang Tarif AS-China Memanas: Ekspor AS Tertekan, Rantai Pasok Terganggu, China Klaim Siap Bertahan

Perang Tarif AS-China Memanas: Ekspor AS Tertekan, Rantai Pasok Terganggu, China Klaim Siap Bertahan

Jakarta — Perang tarif dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China masih berlangsung dengan tensi tinggi, meski Presiden AS Donald Trump sempat menangguhkan tarif resiprokal terhadap sejumlah mitra dagang pada 9 April 2025. Penangguhan itu tidak berlaku bagi barang-barang dari China, yang justru menghadapi kenaikan pungutan impor AS hingga 145 persen. Beijing membalas dengan bea masuk 125 persen untuk barang-barang asal AS.

Di tengah eskalasi tersebut, Trump menyampaikan kemungkinan tercapainya kesepakatan dagang dengan China. Ia menyebut tarif AS terhadap China berpeluang turun secara substansial dalam waktu dekat dan mengklaim pemerintahannya aktif bernegosiasi, meski tanpa merinci prosesnya.

“Kami akan mencapai kesepakatan yang adil dengan China,” kata Trump kepada awak media, Rabu, 23 April 2024, seperti dikutip Al Jazeera pada Rabu, 30 April 2025.

Namun, sehari setelah pernyataan itu, Kementerian Perdagangan China membantah adanya pembicaraan. Juru bicara kementerian, He Yadong, menegaskan bahwa klaim mengenai kemajuan negosiasi ekonomi dan perdagangan kedua negara tidak berdasar dan tidak memiliki fakta pendukung.

Ekspor AS mulai menunjukkan sinyal tekanan

Dampak penuh perang tarif disebut belum akan sepenuhnya terasa hingga akhir tahun. Meski begitu, sejumlah indikator awal mulai terlihat, terutama pada sektor pertanian AS.

Data Departemen Pertanian AS menunjukkan ekspor kedelai—komoditas pertanian ekspor terbesar AS—mengalami penurunan tajam pada periode 11–17 April, yang merupakan minggu pelaporan penuh pertama setelah pengumuman tarif China oleh Trump. Pada 17 April, penjualan bersih kedelai AS turun 50 persen dibandingkan minggu sebelumnya, seiring merosotnya ekspor kedelai mingguan ke China sebesar 67 persen. China selama ini merupakan tujuan ekspor kedelai terbesar AS.

Profesor Ekonomi Universitas Neuchatel, Swiss, Piergiuseppe Fortunato, menilai tarif balasan China berpotensi memukul petani AS dan membuat sebagian menghadapi risiko gulung tikar. Ia juga menyebut sektor-sektor AS yang terkait dengan China akan mengalami tekanan.

Selain pertanian, sektor energi juga disebut berisiko terdampak. Pada 2023, AS mengekspor sekitar USD 15 miliar minyak, gas, dan batu bara ke China. Jika pasar tersebut hilang, perusahaan energi AS dapat terkena dampak signifikan.

Impor dan pasokan di AS terancam terganggu

Dari sisi impor, pengiriman kargo dilaporkan menurun sejak perang tarif berlangsung. Linerlytica, penyedia data pengiriman, mencatat pemesanan barang dari China menuju AS turun 30–60 persen sepanjang April.

Penurunan tajam dari mitra dagang terbesar ketiga AS—setelah Kanada dan Meksiko—disebut belum sepenuhnya terasa. Namun, pada Mei, banyak perusahaan diperkirakan perlu mengisi kembali persediaan mereka.

Bloomberg News melaporkan bahwa Walmart menyampaikan kepada Trump dalam pertemuan pekan lalu bahwa konsumen kemungkinan akan mulai melihat rak kosong dan harga lebih tinggi mulai bulan depan. Walmart juga memperingatkan guncangan pasokan bisa berlanjut hingga periode Natal.

Komposisi impor AS dari China menunjukkan potensi dampak langsung pada harga barang. Peralatan elektronik seperti perangkat TV dan mesin cuci menyumbang 46,4 persen impor AS dari China pada 2022. Selain itu, AS juga mengimpor bahan pakaian dan produk farmasi dari China. Kenaikan harga barang-barang tersebut diperkirakan mulai terasa bulan depan.

Inflasi AS diproyeksi naik, pertumbuhan diturunkan

Pada 22 April, Dana Moneter Internasional (IMF) menaikkan proyeksi inflasi AS menjadi 3 persen pada 2025, atau 1 poin persentase lebih tinggi dibandingkan perkiraan pada Januari, dengan faktor tarif sebagai pendorongnya. IMF juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi AS dan meningkatkan ekspektasi bahwa AS akan mengalami resesi tahun ini.

China dinilai terdampak, tetapi pejabatnya yakin bisa bertahan

Meski ketegangan meningkat, AS dan China tetap merupakan mitra dagang utama. Kantor Perwakilan Dagang AS mencatat AS mengimpor barang-barang China senilai USD 438,9 miliar tahun lalu. Nilai tersebut setara sekitar 3 persen dari total output ekonomi China, yang masih bergantung pada ekspor.

Dalam laporan yang dibagikan kepada klien bulan ini, Goldman Sachs memperkirakan tarif Trump dapat menurunkan produk domestik bruto (PDB) China hingga 2,4 poin persentase.

Di sisi lain, pejabat tinggi China menyatakan negaranya dapat bertahan tanpa impor pertanian dan energi dari AS, serta tetap menargetkan pertumbuhan PDB 5 persen pada tahun ini. Wakil Ketua Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional China, Zhao Chenxin, mengatakan pasokan dari impor non-AS serta produksi domestik pertanian dan energi dinilai cukup untuk memenuhi permintaan.

“Bahkan jika kita tidak membeli biji-bijian pakan ternak dan biji minyak dari Amerika Serikat, hal itu tidak akan berdampak banyak pada pasokan biji-bijian negara kita,” kata Zhao. Ia juga menyebut dampaknya akan terbatas pada pasokan energi jika perusahaan China berhenti mengimpor bahan bakar fosil dari AS.

Risiko geopolitik: sekutu AS enggan ikut memisahkan diri dari China

Trump juga menyatakan keinginan melibatkan sekutu AS dalam strategi perang dagang, dengan target kesepakatan perdagangan bebas bersama Uni Eropa, Inggris Raya, dan Jepang. Sejumlah laporan menyebut Washington meminta mitra dagang melonggarkan hubungan ekonomi dengan China sebagai syarat untuk memperoleh keringanan dari tarif “timbal balik” Trump.

Namun, respons sekutu AS cenderung tidak sejalan dengan dorongan tersebut. Komisi Eropa menyatakan tidak berniat melakukan “pemutusan hubungan” dari China. Di Inggris, Menteri Keuangan Rachel Reeves menyebut China sebagai ekonomi terbesar kedua dunia dan mengatakan akan sangat keliru jika tidak terlibat.

Banyak negara juga dinilai tidak berada dalam posisi untuk meninggalkan hubungan dagang dengan Beijing. Uni Eropa memiliki defisit perdagangan besar dengan China, sementara memutus akses terhadap barang China—baik produk konsumen maupun input industri—berisiko menekan ekonomi Eropa yang disebut sudah lesu. Di negara berkembang, ketergantungan impor dari China juga tinggi, termasuk Bangladesh dan Kamboja yang sekitar seperempat impornya berasal dari China. Nigeria dan Arab Saudi pun disebut bergantung pada Beijing untuk impor barang.

Fortunato menilai sulit melihat alasan negara-negara lain mau mengorbankan kepentingan bisnisnya sendiri demi membantu mengurangi defisit perdagangan AS dengan China. Ia juga berpendapat bahwa pada akhirnya Trump mungkin akan menjadi pihak yang lebih dulu terpaksa mengalah dalam menurunkan tarif terhadap China.