BERITA TERKINI
Perang Iran Masuk Pekan Kedua, Gangguan Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Krisis Energi Global

Perang Iran Masuk Pekan Kedua, Gangguan Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Krisis Energi Global

JAKARTA — Perang yang melibatkan Iran memasuki pekan kedua dan memicu kekhawatiran baru terhadap potensi krisis energi global. Situasi di Selat Hormuz—jalur pelayaran strategis yang menjadi penghubung utama distribusi energi dunia—dilaporkan berdampak signifikan terhadap pasar minyak.

Selat Hormuz terletak di antara Iran di utara serta Oman dan Uni Emirat Arab di selatan. Jalur ini dilalui sekitar seperlima atau 20% pasokan minyak dunia, serta sebagian besar gas alam cair (LNG). Meski tidak ada pengumuman penutupan resmi, lalu lintas kapal tanker di kawasan tersebut dilaporkan hampir terhenti total.

Hampir berhentinya aktivitas pelayaran itu dikaitkan dengan kombinasi serangan fisik terhadap kapal-kapal tanker dan keengganan perusahaan asuransi memberikan penjaminan finansial untuk pelayaran di zona konflik. Kondisi tersebut memperbesar ketidakpastian distribusi energi dan membuat pasar bereaksi cepat.

Pergerakan harga minyak dunia pun menjadi tidak menentu. Pada Minggu lalu, harga sempat melonjak hingga 119 dolar AS per barel—level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir—sebelum kemudian turun sekitar 9% ke kisaran 86 dolar AS per barel.

Dampak fluktuasi harga mulai dirasakan konsumen di berbagai negara. Di Amerika Serikat, harga bensin dan diesel dilaporkan merangkak naik sehingga menambah beban biaya transportasi. Di Korea Selatan, pemerintah setempat untuk pertama kalinya dalam 30 tahun mematok batas atas harga di SPBU. Sementara di India, pemerintah menangguhkan penggunaan gas untuk kremasi guna menghemat cadangan energi.

Perkembangan ini mengingatkan pada krisis minyak 1973, ketika harga minyak melonjak hingga empat kali lipat dalam waktu singkat dan menyulitkan banyak negara Barat. Namun, situasi global saat ini dinilai lebih siap dibandingkan 50 tahun lalu, antara lain karena perubahan struktur pasokan energi.

Amerika Serikat, misalnya, disebut telah bertransformasi dari importir neto menjadi eksportir neto minyak berkat teknologi seperti fracking. Selain itu, ketergantungan global terhadap minyak dinilai berkurang seiring pengembangan energi terbarukan dan nuklir.

Di sisi militer, Amerika Serikat melaporkan telah menyerang 16 kapal peletak ranjau milik Iran di dekat Selat Hormuz. Di Lebanon, krisis kemanusiaan juga membayangi setelah 700.000 warga dilaporkan mengungsi akibat serangan udara Israel.

Serangan Iran disebut telah melukai 140 personel militer AS dan menewaskan tujuh lainnya. Ketidakpastian yang terus berlangsung membuat banyak negara cemas dan berharap perang segera berakhir, mengingat risiko gangguan pasokan energi dapat menjalar ke perekonomian global.