BERITA TERKINI
Perang Dagang AS–Cina Dinilai Tetap Berdampak ke Indonesia, Meski Disebut Masih Terbatas

Perang Dagang AS–Cina Dinilai Tetap Berdampak ke Indonesia, Meski Disebut Masih Terbatas

Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Cina dinilai tetap akan memengaruhi perekonomian Indonesia, meski dampaknya disebut belum besar. Sejumlah pihak menilai perbedaan pasar dan skala perdagangan membuat pengaruh langsungnya ke Indonesia masih terbatas.

Anggota Komisi VI DPR dari Partai Golkar, Hardisoesilo, mengatakan dampak perang dagang sejauh ini masih kecil, termasuk untuk komoditas yang terkait logam. Menurutnya, ekspor Indonesia dalam sektor tersebut tidak terlalu besar sehingga pengaruhnya tidak signifikan.

Hardisoesilo juga menyinggung komoditas seperti minyak kelapa sawit mentah (CPO). Ia menilai pasar utama Indonesia untuk komoditas tersebut justru lebih besar di Eropa, bukan dalam konteks perang dagang AS–Cina.

Namun, Ketua Asosiasi Bisnis Indonesia di Shanghai (IBAS), Adi Harsono, mengingatkan Indonesia tetap berpotensi terkena dampak negatif jika perang dagang berkepanjangan. Menurutnya, jika ekonomi Cina melemah, permintaan terhadap komoditas dari negara lain, termasuk Indonesia, bisa menurun. Ia menyebut komoditas seperti batu bara dan minyak kelapa sawit berisiko terdampak karena ekspor dapat berkurang apabila pasar Cina menyusut.

Adi juga menyoroti kemungkinan tekanan persaingan di kawasan apabila harga barang di Cina menjadi lebih murah. Ia mengatakan, jika produk-produk dari Cina diekspor dengan harga lebih rendah ke negara-negara Asia Tenggara, maka industri dalam negeri di kawasan bisa terdorong ke posisi sulit untuk bersaing.

Sejalan dengan kekhawatiran tersebut, pada Senin (02/04) dilaporkan harga bahan baku baja di dalam negeri Cina turun 8%. Penurunan itu terjadi karena para pelaku usaha di Cina khawatir barang mereka tidak terserap pasar akibat kenaikan tarif yang menghambat ekspor ke AS.

Dalam perkembangan kebijakan tarif, Cina memberlakukan bea masuk hingga 25% terhadap 128 produk impor dari AS, termasuk daging babi dan minuman anggur. Kebijakan ini merupakan balasan atas langkah Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menaikkan bea atas impor baja dan aluminium pada awal Maret.

Tarif impor tersebut berdampak pada berbagai barang senilai US$3 miliar atau sekitar Rp41 triliun dan mulai berlaku pada Senin (02/04).

Sejumlah pihak mempertanyakan kebijakan Presiden Trump yang dinilai memicu perang dagang dan berisiko bagi perekonomian dunia. Mereka berpandangan persoalan perdagangan semestinya diselesaikan melalui forum Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), sebagaimana diklaim telah ditempuh Beijing sebelum mengambil langkah balasan.

Adi Harsono menilai langkah Trump kemungkinan lebih bersifat tekanan politik dan tidak akan berlangsung lama. Ia menyebut kebijakan Trump sulit diprediksi dan bisa berubah sewaktu-waktu, mengacu pada sikap Trump dalam isu-isu lain.

Hardisoesilo juga menyampaikan pandangan serupa bahwa kebijakan pemerintah AS di bawah Trump sulit diramalkan. Ia menilai perubahan sikap bisa terjadi cepat, sehingga perkembangan perang dagang pun tidak mudah dipastikan arahnya.

Sementara itu, BBC menyebut telah mencoba menghubungi Kementerian Perdagangan untuk meminta pandangan pemerintah, namun belum memperoleh keterangan pada tahap tersebut.