BERITA TERKINI
Perang Dagang AS-China Mereda, Ekonom Nilai Ada Peluang dan Risiko bagi Indonesia

Perang Dagang AS-China Mereda, Ekonom Nilai Ada Peluang dan Risiko bagi Indonesia

JAKARTA — Perang tarif antara Amerika Serikat (AS) dan China mulai mereda setelah kedua negara sepakat menunda tarif resiprokal selama 90 hari. Dalam kesepakatan tersebut, AS menurunkan tarif impor barang dari China menjadi 30 persen, sementara China menurunkan tarif untuk barang asal AS menjadi 10 persen.

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai keputusan ini berdampak luas, tidak hanya bagi hubungan bilateral kedua negara, tetapi juga bagi perekonomian global, termasuk Indonesia. Menurutnya, meredanya ketegangan dagang dapat membuka peluang stabilisasi ekonomi dunia.

Syafruddin mengatakan Indonesia dapat memanfaatkan situasi ini untuk memperluas pasar ekspor dan memperkuat posisi dalam rantai pasok global. Berkurangnya tekanan harga akibat gangguan pasokan dan lonjakan biaya produksi yang dipicu tarif dinilai bisa membuat dunia usaha Indonesia memiliki akses yang lebih kompetitif ke pasar global.

Ia menilai peluang ekspor Indonesia berpotensi meningkat, terutama di sektor manufaktur. Dengan penyesuaian tarif, AS dan China disebut bisa mulai mencari mitra dagang baru untuk menggantikan produk yang sebelumnya terkena tarif tinggi.

Namun, Syafruddin juga mengingatkan adanya risiko pembelokan arus perdagangan. Normalisasi hubungan AS-China dapat membuat peluang ekspor yang sempat mengalir ke Indonesia kembali direbut oleh China.

Karena itu, ia menekankan pentingnya strategi negosiasi bilateral serta peningkatan daya saing domestik agar Indonesia dapat menjaga momentum perdagangan nasional.

Syafruddin turut menyoroti perlunya Indonesia mempertahankan posisi bebas aktif dalam menghadapi dinamika konflik dagang global, tanpa terjebak dalam kutub AS maupun China. Sejumlah langkah yang disarankan antara lain memperkuat diversifikasi pasar ekspor, meningkatkan efisiensi logistik, dan memperbaiki iklim investasi.

Ia menilai perubahan tarif yang cepat dapat menciptakan ketidakpastian. Meski demikian, ketidakpastian tersebut dapat dihadapi dengan fundamental ekonomi yang kuat.

Selain itu, Syafruddin mendorong Indonesia aktif di forum regional seperti ASEAN untuk memperkuat daya tawar dalam penyusunan perjanjian dagang. Dukungan terhadap sistem multilateral dan aturan perdagangan berbasis Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) juga dinilai penting agar negara berkembang tidak terus dirugikan oleh konflik negara besar.

Syafruddin menegaskan, langkah konkret dan visi strategis diperlukan agar Indonesia tidak hanya menjadi penonton dalam dinamika global, melainkan ikut berperan membentuk arah baru perdagangan internasional.