BERITA TERKINI
Peran Pakistan di Balik Perundingan AS-Iran di Islamabad

Peran Pakistan di Balik Perundingan AS-Iran di Islamabad

Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang digelar di Islamabad pada 11 April 2026 menjadi sorotan internasional. Meski pertemuan tersebut berakhir tanpa kesepakatan setelah negosiasi maraton di tingkat pejabat elite, langkah Pakistan yang proaktif meredakan ketegangan mendapat apresiasi.

Kemunculan Pakistan sebagai perantara dalam konflik AS-Iran dinilai bukan terjadi secara kebetulan. Dalam beberapa pekan terakhir, ketika eskalasi konflik semakin memanas, Islamabad disebut aktif membangun “jembatan komunikasi” dengan menyampaikan pesan-pesan antara Washington dan Teheran, sebagai bagian dari upaya mendorong gencatan senjata.

Pakistan, yang kerap diposisikan sebagai negara middle power, dinilai mampu memainkan diplomasi di tengah situasi krisis, terlepas dari tercapai atau tidaknya kesepakatan dalam perundingan tersebut. Aktivitas diplomatik ini memunculkan pertanyaan mengenai manuver Islamabad di balik inisiasi perundingan AS-Iran serta implikasinya bagi Pakistan.

Dalam konteks ini, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif pada 8 April 2026 sempat mengunggah pernyataan di platform X yang menyebut Amerika Serikat dan Iran, bersama sekutu masing-masing, telah menyepakati gencatan senjata. Pernyataan itu memunculkan optimisme bahwa situasi di wilayah konflik dapat membaik, meski pada saat yang sama terdapat pula pandangan pesimistis yang menilai pengumuman tersebut hanya menjadi langkah politik Presiden AS Donald Trump untuk menutupi kerugian politik dan geopolitik akibat konfrontasi dengan Iran.

Pakistan dipandang memiliki alasan strategis untuk terlibat. Sebagai negara yang berbatasan dengan Iran, Islamabad memiliki hubungan baik dengan Teheran di bidang politik, ekonomi, dan perdagangan. Pada saat yang sama, Pakistan juga memiliki kedekatan dengan Washington, terutama dengan pemerintahan Donald Trump.

Kedekatan itu antara lain terlihat pada perang singkat selama empat hari antara India dan Pakistan pada Mei 2025, ketika Presiden Trump tampil sebagai mediator dan mengumumkan kesepakatan gencatan senjata kedua negara. Menyusul peran tersebut, Pakistan secara resmi merekomendasikan Trump sebagai nominator peraih Nobel Perdamaian 2025. Islamabad menilai Trump melakukan intervensi yang menentukan saat eskalasi konflik dengan India meningkat.

Di sisi lain, dalam konflik di Timur Tengah yang digambarkan sebagai perang AS-Israel melawan Iran, Pakistan juga menyatakan berada di belakang Arab Saudi apabila Iran melakukan serangan terhadap negara tersebut. Sikap ini dikaitkan dengan perjanjian pertahanan strategis Pakistan-Arab Saudi yang ditandatangani pada 2025, yang menyatakan bahwa setiap agresi terhadap salah satu pihak akan dianggap sebagai agresi terhadap keduanya.

Dengan posisi yang memiliki relasi dengan Iran sekaligus kedekatan dengan Amerika Serikat, Pakistan mencoba memanfaatkan ruang diplomasi untuk mendorong deeskalasi. Namun, berakhirnya perundingan 11 April 2026 tanpa kesepakatan menunjukkan kompleksitas konflik yang masih sulit dijembatani meski jalur komunikasi telah dibuka.