BERITA TERKINI
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran Picu Guncangan Energi dan Ancaman Perlambatan Ekonomi Global

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran Picu Guncangan Energi dan Ancaman Perlambatan Ekonomi Global

Keputusan Iran untuk menutup secara efektif Selat Hormuz sebagai respons atas agresi militer Amerika Serikat dan Israel memicu guncangan terhadap stabilitas ekonomi global. Selat sempit yang memisahkan Teluk Persia dan Teluk Oman itu selama ini menjadi jalur paling vital bagi perdagangan energi dunia.

Selat Hormuz dilaporkan mengalirkan sekitar 20 juta barel minyak per hari serta sekitar 20% pasokan gas alam cair (LNG) global. Penutupan jalur tersebut membuat rantai pasok energi terganggu, terutama bagi industri di Asia dan Eropa yang bergantung pada pasokan dari kawasan Teluk.

Laporan International Energy Agency (IEA) menyebut harga minyak mentah Brent melonjak melampaui 150 dolar AS per barel hanya dalam hitungan hari. Kenaikan tajam ini diperkirakan mendorong tekanan inflasi di negara-negara pengimpor energi dan berpotensi mengganggu pemulihan pertumbuhan ekonomi global.

Kepala Ekonom International Monetary Fund (IMF), Pierre-Olivier Gourinchas, dalam wawancara dengan Bloomberg memperingatkan bahwa blokade berkepanjangan di Hormuz dapat memangkas pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) global secara signifikan. Ia menyatakan dunia berada di ambang “resesi energi” yang belum pernah terjadi sejak krisis minyak 1973.

Krisis turut diperkuat oleh pernyataan Kamal Kharazi, penasihat kebijakan luar negeri kantor pemimpin tertinggi Iran, yang menegaskan Teheran tidak lagi melihat ruang untuk diplomasi. Strategi peningkatan tekanan ekonomi global disebut diharapkan dapat mendorong komunitas internasional menekan Washington agar menghentikan konflik.

Di sisi lain, analis energi senior Goldman Sachs, Daan Struyven, menilai langkah tersebut sebagai perjudian besar yang mempertaruhkan stabilitas pangan dan logistik dunia. Ia memperingatkan kenaikan biaya transportasi laut dapat berdampak langsung pada harga komoditas pangan global yang sangat bergantung pada distribusi lintas samudera.

Di Asia, negara-negara industri seperti Cina, Jepang, dan Korea Selatan disebut menjadi pihak yang paling terdampak karena ketergantungan tinggi terhadap pasokan energi dari Teluk Persia. Reuters melaporkan sejumlah kilang minyak di wilayah itu mulai mengurangi kapasitas produksi seiring menipisnya cadangan minyak mentah.

Pakar risiko geopolitik Eurasia Group, Ian Bremmer, menilai kebuntuan tersebut menciptakan ketidakpastian ekstrem di pasar modal global. Menurutnya, penutupan jalur laut internasional tanpa kepastian waktu dapat mendorong negara-negara besar mengaktifkan cadangan minyak darurat untuk mencegah guncangan yang lebih dalam terhadap perekonomian domestik.