BERITA TERKINI
Penutupan Selat Hormuz dan Dampaknya terhadap Stabilitas Ekonomi Global

Penutupan Selat Hormuz dan Dampaknya terhadap Stabilitas Ekonomi Global

Selat Hormuz dilaporkan tertutup di tengah eskalasi ketegangan Iran dengan Israel dan Amerika Serikat. Penutupan jalur pelayaran strategis ini memunculkan kekhawatiran baru terhadap kelancaran pasokan energi dunia dan stabilitas ekonomi global, termasuk potensi dampaknya terhadap perekonomian Indonesia.

Menurut kronologi yang dipaparkan dalam tulisan tersebut, ketegangan meningkat setelah Israel pada 28 Februari 2026 mengumumkan telah melakukan serangan yang disebut sebagai “pencegahan” (preemptive strike) terhadap Iran. Serangan ini terjadi meskipun pada 15 Januari 2026 kedua negara, melalui mediasi Rusia, disebut telah menyatakan tidak akan saling menyerang.

Amerika Serikat juga disebut turut terlibat dalam serangan tersebut, di saat Washington tengah melakukan negosiasi untuk mencegah pengembangan nuklir Iran. Tim negosiasi AS yang disebut dipimpin Steve Witkoff dan Jared Kushner dinilai dalam tulisan itu menuai kritik terkait kualifikasi diplomatik, termasuk karena adanya anggapan mengenai Tehran Research Reactor (TRR) sebagai ancaman yang dapat menghasilkan uranium tingkat senjata dalam waktu singkat. Namun, tulisan tersebut juga menyebut para ahli nuklir menepis kemungkinan itu karena dinilai tidak ada bukti konkret.

Dalam konteks respons Iran, Selat Hormuz disebut menjadi titik paling krusial. Selat ini merupakan jalur laut sempit di antara Iran dan Oman yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Mengacu pada data Badan Energi Internasional (IEA) yang dikutip dalam tulisan tersebut, sekitar 25% perdagangan minyak mentah dunia melewati Selat Hormuz, dan sekitar 80% dari volume itu menuju Asia. Selain minyak, jalur ini juga dilalui gas alam cair (LNG) serta berbagai produk energi dari negara-negara seperti Qatar, Kuwait, Irak, dan Arab Saudi.

Iran disebut memahami bahwa memblokade selat tersebut merupakan daya tawar paling kuat. Dalam tulisan itu, Iran digambarkan menggunakan serangan drone untuk melumpuhkan kapal-kapal yang tidak mematuhi blokade. Situasi ini kemudian berdampak pada keputusan perusahaan asuransi internasional yang disebut tidak lagi berani menjamin kapal yang melintasi Selat Hormuz karena risiko perang yang dinilai terlalu tinggi. Tanpa perlindungan asuransi, aktivitas pelayaran disebut terhenti, yang pada akhirnya mengganggu pasokan energi dunia.

Dari sisi Indonesia, tulisan tersebut menekankan dampak awal yang paling cepat terasa adalah tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Karena minyak dan gas diperdagangkan dalam dolar AS, Indonesia sebagai negara net importer migas disebut harus mengeluarkan biaya lebih besar ketika harga energi global meningkat. Kenaikan kebutuhan dolar untuk impor energi dinilai dapat mendorong pelemahan rupiah.

Penutupan Selat Hormuz, sebagaimana digambarkan dalam tulisan tersebut, menegaskan bagaimana eskalasi konflik geopolitik di kawasan Teluk dapat dengan cepat merembet ke sektor ekonomi dan memengaruhi negara-negara yang bergantung pada impor energi, termasuk Indonesia.