BERITA TERKINI
Pentagon Siapkan Opsi Operasi Darat ke Iran di Tengah Diplomasi yang Belum Maju

Pentagon Siapkan Opsi Operasi Darat ke Iran di Tengah Diplomasi yang Belum Maju

Amerika Serikat dikabarkan tengah menyiapkan skenario operasi darat di Iran, seiring belum terlihatnya kemajuan diplomasi dalam perang kedua negara yang memasuki pekan kelima pada 2026. Rencana tersebut muncul di tengah kekhawatiran meningkatnya eskalasi konflik.

Menurut laporan The Washington Post, Pentagon menyusun opsi operasi darat yang mencakup kemungkinan pengerahan pasukan operasi khusus hingga infanteri konvensional untuk melakukan serangan terbatas di Teheran. Meski demikian, belum ada kepastian apakah rencana itu akan disetujui Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Trump disebut baru-baru ini mengirimkan proposal perdamaian kepada Iran. Dalam proposal tersebut, ia meminta Iran menghancurkan stok uranium yang diperkaya tinggi dan menghentikan program pengayaan uranium. Iran juga diminta membatasi program rudal balistik serta menghentikan dukungan terhadap sekutu regional di Timur Tengah.

Amerika Serikat turut menyoroti isu Selat Hormuz. Trump dilaporkan tidak ingin blokade di jalur tersebut terulang dan meminta kontrol atas Selat Hormuz.

Di pihak Iran, Presiden Masoud Pezeshkian dikabarkan sedang mengkaji proposal itu. Ia menekankan pentingnya membangun kepercayaan sebagai dasar membuka jalur negosiasi, sekaligus memberi sinyal bahwa Iran belum melupakan serangan yang terjadi tidak lama setelah negosiasi pengembangan nuklir dengan Washington.

Mandeknya diplomasi memicu kekhawatiran global, terlebih setelah Trump memperingatkan bahwa jika proposal tidak diterima, Amerika Serikat akan meningkatkan tekanan militer terhadap Iran. Ancaman itu disebut beriringan dengan rencana pengerahan pasukan tambahan ke Timur Tengah.

Washington dilaporkan mempertimbangkan pengiriman sekitar 4.000 personel dari 82nd Airborne Division yang berbasis di Fort Bragg, North Carolina. Selain itu, ada pula pertimbangan pengiriman pasukan tambahan hingga 10.000 personel, yang kemungkinan mencakup unit infanteri, kendaraan lapis baja, serta dukungan tempur lainnya.

Dalam perkembangan terbaru, Washington untuk pertama kalinya mengonfirmasi penggunaan kapal drone tanpa awak (uncrewed surface vessels) dalam operasi militer aktif melawan Iran. Langkah ini menandai eskalasi penggunaan teknologi otonom dalam konflik modern.

Meski berbagai rencana tersebut masih berada dalam pembahasan internal dan belum menjadi keputusan final, langkah-langkah itu menunjukkan peningkatan kesiapan militer Amerika Serikat. Jika opsi operasi darat benar-benar dijalankan, eskalasi konflik berpotensi meningkat signifikan karena keterlibatan pasukan darat kerap menandai fase perang yang lebih intens.

Peningkatan eskalasi juga dikhawatirkan berdampak lebih luas, termasuk pada harga minyak, stabilitas pasar global, serta rantai pasok energi. Bagi Indonesia, situasi tersebut berpotensi memengaruhi inflasi dan stabilitas ekonomi mengingat ketergantungan terhadap energi impor.