Penjualan Hermès pada awal 2026 tercatat lebih lemah dari ekspektasi pasar, seiring dampak konflik di Timur Tengah yang mulai terasa pada industri barang mewah global. Produsen tas Birkin itu membukukan pertumbuhan penjualan 5,6% secara kurs konstan pada kuartal I-2026, di bawah proyeksi analis yang memperkirakan kenaikan 7,44%.
Tekanan paling besar datang dari kawasan Timur Tengah yang justru mencatat penurunan penjualan 5,9%. Dampaknya ikut merembet ke Eropa, terutama Prancis yang selama ini menjadi tujuan belanja wisatawan. Penurunan kunjungan turis, khususnya pada Maret, membuat penjualan Hermès di pasar domestik turun 2,8%.
Chief Financial Officer Hermès, Eric du Halgouet, menyatakan berkurangnya wisatawan asal Timur Tengah turut menekan kinerja toko-toko Hermès di Italia, Swiss, dan Inggris. Kondisi ini menegaskan tingginya ketergantungan sektor barang mewah terhadap mobilitas serta belanja wisatawan internasional.
Situasi serupa juga dialami pemain besar lain. LVMH Moët Hennessy Louis Vuitton SE menyebut konflik geopolitik telah menggerus penjualannya. CFO LVMH, Cécile Cabanis, mengatakan pendapatan divisi utama yang menaungi Louis Vuitton dan Dior seharusnya bisa tumbuh datar jika bukan karena dampak perang. Kering SA juga melaporkan kinerja di bawah ekspektasi pada Gucci, dengan konflik global menjadi salah satu faktor penekan.
Sementara itu, kawasan Asia Pasifik (di luar Jepang) belum mampu menjadi penopang pertumbuhan. Hermès mencatat pertumbuhan 2,2% di wilayah tersebut, jauh di bawah ekspektasi analis yang mendekati 6%. Data ini menjadi sinyal bahwa pemulihan permintaan di kawasan itu masih berjalan lambat.
Di tengah tekanan geopolitik, Hermès tetap melanjutkan ekspansi. Pekan lalu, perusahaan meresmikan pabrik barang kulit ke-25, yang menunjukkan strategi jangka panjangnya tidak berubah meski ketidakpastian global meningkat.
Namun, pasar saham tetap menunjukkan sikap waspada. Sejak awal tahun, saham Hermès terkoreksi sekitar 16%. Meski penurunannya lebih kecil dibandingkan saham LVMH yang turun sekitar 25%, koreksi ini mencerminkan bahwa bahkan merek premium dengan model kelangkaan terkelola pun tidak sepenuhnya kebal terhadap guncangan global.
Ke depan, tantangan industri barang mewah dinilai semakin kompleks. Ketergantungan pada wisatawan kelas atas dan sensitivitas terhadap konflik geopolitik membuat sektor ini rentan. Jika ketegangan global berlanjut, pertumbuhan yang selama ini ditopang konsumen super-kaya berisiko kehilangan momentum.