BERITA TERKINI
Penguatan Domestik Dinilai Jadi Benteng Ekonomi Indonesia di Tengah Ketegangan Global

Penguatan Domestik Dinilai Jadi Benteng Ekonomi Indonesia di Tengah Ketegangan Global

Jakarta — Dunia dinilai tengah berada dalam situasi ketegangan berkepanjangan (sustained tension) yang turut memengaruhi dinamika ekonomi dan geopolitik. Dalam konteks ini, Pemerhati Geopolitik dan Geostrategi Bungas T Fernando Duling menilai Indonesia di bawah Presiden Prabowo Subianto memahami bahwa proxy war masa kini tidak semata perebutan wilayah fisik, melainkan berkaitan dengan penguasaan sumber-sumber vital seperti energi, air, dan jalur logistik.

Fernando mengatakan navigasi geopolitik Indonesia saat ini berfokus pada penguatan domestik sebagai benteng pertahanan ekonomi. Menurut dia, di tengah meningkatnya proteksionisme global, Indonesia mengambil posisi sebagai “penyeimbang yang mandiri”.

“Indonesia sadar menjadi pengikut salah satu blok hanya akan menjadikan sumber daya nasional sebagai ‘bahan bakar’ bagi kemajuan negara lain. Penguatan domestik adalah jawaban atas ancaman ketergantungan global,” kata Fernando dalam keterangannya, Rabu, 11 Maret 2026.

Fernando juga menyoroti perlunya reorientasi kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) di sektor batu bara. Sebagai eksportir batu bara termal nomor satu dunia, Indonesia dinilai memiliki posisi penting dalam keamanan energi global. Namun, ia menyebut literatur ekonomi politik baru menekankan penguatan DMO sebagai bagian dari strategi geopolitik.

“Ada paradigma baru. Jika sebelumnya Indonesia bangga menyuplai energi untuk industri Tiongkok, India, dan Jepang, kini logikanya dibalik, batu bara harus menjadi ‘darah’ bagi industrialisasi dalam negeri,” ujarnya.

Ia menambahkan, visi listrikisasi 2026 menjadi bagian penting dari upaya kemandirian. Menurutnya, langkah tersebut dapat menggeser ketergantungan pada impor BBM yang membebani APBN menuju pemanfaatan energi berbasis listrik dari sumber daya domestik, sekaligus menjadi respons terhadap volatilitas harga komoditas global.

Selain energi, Fernando menilai penguatan logistik lokal menjadi faktor krusial. Ia menyoroti peran PT KAI dan KAI Logistik (KALOG), termasuk rencana pembangunan lintas rel Trans-Kalimantan serta wilayah luar Jawa yang berfokus pada angkutan sumber daya alam. Menurutnya, arah ini menandai pergeseran dari orientasi angkutan penumpang menuju penguatan fungsi kereta sebagai heavy haul railway.

“Peran strategis KAILOG adalah bertindak sebagai integrator logistik di mulut tambang dan pelabuhan, memastikan supply chain energi domestik terjaga tanpa kebocoran,” kata Fernando.

Ia menegaskan, dalam kerangka rel komoditas, infrastruktur perkeretaapian dipandang bukan sekadar sarana transportasi, melainkan alat untuk memobilisasi kekayaan negara agar nilai tambah tetap berada di dalam negeri, sejalan dengan konsep hilirisasi nasional.

Fernando menyimpulkan, di tengah perebutan sumber daya dunia, Indonesia dinilai tengah membangun benteng melalui kedaulatan energi dan penguatan logistik. Ia menilai, apabila infrastruktur logistik yang dipimpin oleh KAI dan KALOG mampu menciptakan efisiensi sistemik, Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi berpotensi memegang peran penting di tengah persimpangan globalisasi.

“Siapa yang menguasai jalur logistik dan mandiri secara energi, dialah yang memegang kunci kedaulatan di abad ke-21,” pungkasnya.