Pengamat hubungan internasional sekaligus pendiri Synergy Policies, Dinna Prapto Raharja, menilai rencana Amerika Serikat menerapkan blokade laut terhadap Iran sebagai eskalasi serius yang berpotensi memperkeruh konflik. Menurutnya, langkah tersebut lebih menunjukkan tekanan sepihak ketimbang upaya meredakan ketegangan melalui negosiasi.
“Amerika Serikat terus melakukan cara-cara menekan Iran dan bukannya mencari jalan untuk menciptakan stabilitas di kawasan lewat proses negosiasi. Yang dilakukan Amerika Serikat ini berarti terus menjalankan aksi-aksi yang sifatnya sepihak tanpa komunikasi juga dengan siapapun,” kata Dinna dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Selasa, 14 April 2026.
Dinna menilai jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Ia menyebut pertemuan-pertemuan sebelumnya masih berada pada tahap awal dan belum menghasilkan titik temu di antara para pihak.
“Jalur diplomasi itu sesuatu yang tidak bisa terjadi hanya dalam satu malam. Apalagi aktornya bukan cuma dua tapi ada tiga, kemudian belum pernah berjumpa langsung, itu belum ada titik temu,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penyelesaian konflik yang kompleks umumnya membutuhkan waktu lebih panjang, komunikasi berkelanjutan, serta peran mediator yang aktif untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
“Memang diplomasi itu yang penting sebenarnya adalah komunikasi terus menerus tanpa putus. Pihak-pihak yang menjadi mediator itu terus mengedepankan pembicaraan seputar risiko yang lebih buruk jika eskalasi lanjut,” ucap Dinna.
Dalam konteks hukum internasional, Dinna menyoroti posisi Selat Hormuz yang tetap melibatkan Iran sebagai pihak teritorial. Karena itu, pengaturan jalur pelayaran di kawasan tersebut tidak semestinya diputuskan sepihak oleh negara lain tanpa melibatkan Iran.
“Antara Iran dengan Oman itu memang masih statusnya wilayah teritori, territorial water (Selat Hormuz). Dalam hukum internasional itu dijamin sebenarnya pihak yang ada di sana itu dilibatkan dalam proses negosiasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Jadi artinya nggak bisa sebenarnya Amerika Serikat, kemudian pihak-pihak mengatakan Hormuz harus A atau harus B. Tanpa melibatkan Iran, itu aturan internasional.”
Dinna menilai, langkah yang paling dibutuhkan saat ini adalah memperkuat jalur komunikasi antarpihak. Tanpa pendekatan kooperatif, ia memperingatkan konflik berisiko terus meningkat.
Ia juga menyebut indikator positif ke depan antara lain tidak adanya serangan militer lanjutan. Selain itu, meningkatnya intensitas pertemuan diplomatik dapat menjadi tanda meredanya ketegangan.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana penerapan blokade laut terhadap Iran. Kebijakan itu disampaikan setelah perundingan di Islamabad disebut gagal meredakan konflik yang telah berlangsung beberapa pekan di Timur Tengah.
Trump menegaskan AS akan menghentikan “setiap kapal” yang berupaya melintas keluar-masuk dari Selat Hormuz. Ia menyebut, blokade tersebut akan segera diberlakukan dengan melibatkan sejumlah negara lain.