Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat yang mendukung Israel dan Iran disebut terus meningkat, terutama setelah serangan Iran terhadap Uni Emirat Arab. Dalam situasi tersebut, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk mengambil peran sebagai mediator guna membantu meredakan konflik di kawasan Timur Tengah.
Dosen Program Studi Hubungan Internasional UIN Jakarta sekaligus peneliti Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS), Rahmi Fitriyanti, menilai Indonesia dapat menawarkan konsep win-win solution melalui pendekatan diplomasi yang terukur. Menurutnya, langkah awal yang dapat dilakukan adalah memisahkan isu konflik militer dari persoalan nuklir, serta membangun pendekatan personal kepada Presiden AS, Donald Trump.
Rahmi menyampaikan enam rekomendasi yang dapat diinisiasi Indonesia jika mengambil peran sebagai mediator. Pertama, mendorong gencatan senjata sementara untuk memberi ruang bagi proses diplomasi tanpa ada pihak yang merasa kalah.
Kedua, memastikan adanya jaminan tidak saling menyerang melalui komitmen tertulis dari pihak-pihak yang terlibat. Ketiga, menempatkan Indonesia sebagai penjamin netral untuk mencegah serangan mendadak atau pre-emptive strike.
Keempat, memisahkan isu perang dari persoalan nuklir Iran agar proses negosiasi lebih fokus dan dapat dilakukan secara bertahap. Kelima, menghidupkan kembali aktivitas ekonomi di Selat Hormuz dengan mendorong penghentian blokade dan serangan di jalur energi global tersebut. Rahmi menilai pembukaan jalur ini dapat menormalkan sekitar 20 persen pasokan energi dunia.
Keenam, menginisiasi forum ekonomi dan keamanan kawasan Timur Tengah yang independen sebagai wadah dialog berkelanjutan.
Selain aspek teknis diplomasi, Rahmi juga menekankan pentingnya pendekatan personal, khususnya terhadap Donald Trump. Ia menilai faktor ego pemimpin dapat menjadi celah untuk membantu menurunkan ketegangan.
“Ego inilah letak kelemahan yang sesungguhnya. Indonesia bisa memainkan ego tersebut dengan membujuk AS agar melunak melalui kalimat-kalimat pengambil hati,” ujarnya.
Menurut Rahmi, pendekatan diplomasi yang menonjolkan penghargaan dan pengakuan terhadap peran AS dapat menjadi strategi untuk mendorong keterlibatan dalam perundingan damai. “Arogansi yang sudah menjadi ‘batu’ ini masih bisa diatasi melalui pendekatan diplomasi yang dapat menurunkan ego. Tujuannya agar AS mau duduk di meja perundingan dan mencapai kesepakatan damai permanen,” tambahnya.
Meski proses menuju perdamaian dinilai tidak mudah, Rahmi menyatakan optimistis bahwa posisi Indonesia sebagai negara netral dapat membantu mendorong stabilitas kawasan. Ia menilai peran tersebut berpeluang menghasilkan solusi yang menguntungkan semua pihak tanpa menimbulkan pihak yang merasa dirugikan.