Samarinda — Pengamat ekonomi Universitas Mulawarman, Rizky Yudaruddin, mengingatkan pentingnya kesiagaan energi dan upaya mewujudkan swasembada energi bagi Indonesia di tengah meningkatnya eskalasi konflik geopolitik global.
Menurut Rizky, konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran terkait pengayaan uranium memunculkan ketidakpastian pasar yang berpotensi menimbulkan dampak berantai terhadap geopolitik dunia. Ia menilai eskalasi yang memburuk juga sangat mungkin mengganggu jalur perdagangan internasional.
Rizky menyoroti potensi gangguan di kawasan Laut Merah yang disebutnya menjadi urat nadi bagi 70 persen perdagangan global. Jalur perairan strategis tersebut dinilai krusial bagi kelancaran distribusi pasokan komoditas energi ke berbagai wilayah.
Ia menambahkan, hambatan pada jalur distribusi logistik dapat memukul perekonomian banyak negara akibat tersendatnya rantai pasok. Kondisi itu, menurutnya, berisiko memicu lonjakan harga minyak mentah di pasar internasional secara signifikan.
Rizky menilai kenaikan harga minyak dunia pada akhirnya dapat berimbas langsung terhadap stabilitas perekonomian Indonesia. Ia menyebut seluruh sektor industri di dalam negeri berpotensi menanggung beban lebih berat karena tingginya ketergantungan nasional terhadap pasokan energi fosil dari luar negeri.
Karena itu, ia menyarankan pemerintah merespons situasi ini dengan langkah strategis dan konkret. Salah satu langkah utama yang perlu digenjot, kata dia, adalah memaksimalkan potensi industri dalam negeri guna mencapai target swasembada energi, sehingga ketergantungan terhadap pasokan energi asing dapat dikurangi.
Selain mengamankan energi konvensional, Rizky juga mendorong percepatan pengembangan energi hijau atau terbarukan sebagai fokus pemerintah. Ia memperkirakan ketegangan geopolitik dan militer di kawasan Timur Tengah akan berlangsung dalam waktu yang cukup lama.
Dalam pengamatannya, banyak negara kini berlomba mewujudkan kemandirian energi demi kepentingan nasional masing-masing. Rizky menegaskan kesiapsiagaan energi menjadi kunci agar aktivitas ekonomi domestik tetap berjalan tangguh di tengah gejolak pasar dunia.

