Pengamat ekonomi Universitas Mulawarman, Rizky Yudaruddin, menilai kesiagaan energi nasional menjadi kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya eskalasi konflik geopolitik global yang berpotensi mengganggu stabilitas pasar energi dunia.
Rizky menyoroti ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran terkait pengayaan uranium sebagai salah satu pemicu utama ketidakpastian. Menurutnya, gejolak tersebut tidak hanya berdampak pada dinamika geopolitik, tetapi juga berimbas pada perekonomian global, sehingga kesiapan energi dinilai penting untuk menjaga ketahanan ekonomi domestik.
Ia juga mengingatkan potensi gangguan pada jalur perdagangan internasional, terutama di Laut Merah yang dinilai vital bagi distribusi komoditas energi global. Situasi ini, kata Rizky, memerlukan respons strategis dari pemerintah Indonesia.
Dalam paparannya, Rizky menyebut memburuknya konflik geopolitik berpotensi menghambat jalur distribusi logistik internasional. Laut Merah disebut sebagai salah satu jalur strategis yang rentan terganggu, sehingga dapat memengaruhi kelancaran pasokan komoditas energi ke berbagai wilayah.
Hambatan distribusi tersebut diperkirakan akan menekan perekonomian banyak negara akibat tersendatnya rantai pasok global. Kondisi itu juga dinilai dapat memicu lonjakan harga minyak mentah di pasar internasional.
Rizky menilai kenaikan harga minyak dunia pada akhirnya dapat berdampak pada stabilitas perekonomian Indonesia dan menambah beban bagi sektor industri. Tingginya ketergantungan terhadap pasokan energi fosil dari luar negeri membuat Indonesia lebih rentan terhadap gejolak eksternal, sehingga pemerintah diminta segera menyiapkan langkah strategis dan konkret.
Ia mendorong pemerintah memaksimalkan potensi industri dalam negeri guna mencapai swasembada energi sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada pasokan energi asing. Selain itu, pengembangan energi hijau atau terbarukan juga dinilai perlu dipercepat sebagai solusi jangka panjang, mengingat ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah diperkirakan dapat berlangsung cukup lama.
Rizky menambahkan, banyak negara kini berlomba mewujudkan kemandirian energi demi kepentingan nasional masing-masing. Karena itu, Indonesia dinilai perlu menyusun strategi yang komprehensif, termasuk diversifikasi sumber energi, investasi infrastruktur energi terbarukan, serta peningkatan efisiensi energi untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

