Pengamat Politik Hubungan Internasional Abhiram Singh Yadav menekankan pentingnya penegakan hukum laut serta kebebasan navigasi di kawasan Indo-Pasifik, yang disebutnya sebagai jalur utama perdagangan dunia. Menurut Abhiram, hampir 90 persen kapal kontainer melintasi jalur laut Indo-Pasifik sehingga prinsip-prinsip tersebut perlu dihormati.
Abhiram menjelaskan, konsep Indo-Pasifik dipandang sebagai jawaban atas tantangan zaman karena mendorong negara-negara memiliki pandangan serupa dalam menyelesaikan berbagai persoalan di kawasan tersebut, baik ancaman tradisional maupun non-tradisional. Ia menambahkan, kebebasan di laut juga mencakup kebebasan di udara sebagaimana diatur dalam United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982.
Kerja sama inklusif dan penghormatan wilayah
Ia menilai negara-negara perlu saling menghormati wilayah teritorial dan bekerja sama secara inklusif untuk mendukung perekonomian global. Dalam konteks itu, Abhiram mendorong kerja sama dalam konsep cooperative security, yakni kerja sama keamanan yang tidak bersifat eksklusif terhadap negara tertentu, melainkan inklusif untuk menghindari distorsi keamanan regional.
Abhiram mengingatkan kawasan Indo-Pasifik diwarnai beragam konflik, mulai dari Korea Utara–Korea Selatan, Korea–Jepang, India–Pakistan, perseteruan India–China, isu Iran, sengketa Laut Cina Selatan dan Timur, hingga ancaman non-tradisional seperti pembajakan laut dan jalur peredaran narkoba.
Peran China dan kesamaan persepsi kekuatan besar
Ia menyebut pendekatan inklusif yang dimaksud antara lain dengan melibatkan China dan tidak menjadikannya sebagai antagonis, meski diakui hal tersebut merupakan persoalan tersendiri. Karena itu, Abhiram menilai diperlukan persepsi yang sama di antara negara-negara berkekuatan besar terhadap konsep Indo-Pasifik.
AOIP dinilai relevan
Abhiram menilai konsep ASEAN Outlook on the Indo-Pasifik (AOIP) relevan dan logis, mengingat sentralitas dan kematangan ASEAN dalam berorganisasi. Konsep ASEAN tersebut, menurutnya, didukung oleh para penggagas utama Indo-Pasifik, yakni India, Jepang, Amerika Serikat, dan Australia. Ia juga menyebut Prancis, Jerman, dan Uni Eropa turut mendukung.
Lebih jauh, Abhiram menilai perhatian dunia terhadap Indo-Pasifik berkaitan dengan upaya modernisasi multilateralisme sesuai perkembangan zaman, khususnya di tubuh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia menambahkan, kawasan Indo-Pasifik dipandang penting seiring perkembangan pesat China dan India yang telah menjadi kekuatan besar, baik secara ekonomi maupun militer.
Dialog dan postur keamanan
Dalam penyelesaian konflik, Abhiram menekankan perlunya mengutamakan dialog dan kerja sama keamanan yang berjalan secara paralel. Ia juga berpandangan bahwa diplomasi tanpa postur keamanan yang kuat berisiko menjadi kegagalan diplomasi dan dapat menciptakan intimidasi politik.

