Pengajian Ramadan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengawali rangkaian materi dengan tema “Restorasi Lingkungan dalam Perkhidmatan Masa Depan”. Sesi ini menghadirkan Kusno Wibowo, S.T., M.Si., dan Hening Purwati Parlon, S.Sos., M.M., yang memaparkan tantangan krisis lingkungan global sekaligus sejumlah langkah nyata yang telah dilakukan di DIY.
Dalam pemaparannya, Hening menegaskan dunia tengah menghadapi triple planetary crisis: perubahan iklim, polusi, dan kehilangan keanekaragaman hayati. Ia menjelaskan, perubahan iklim banyak dipicu bencana hidrometeorologi. Sementara polusi terjadi ketika lingkungan terkontaminasi zat berbahaya melebihi ambang batas aman hingga mengancam kesehatan makhluk hidup.
Terkait keanekaragaman hayati, Hening mengingatkan pentingnya kesadaran atas kekayaan alam Indonesia yang kian menyusut. “Betapa kayanya Indonesia, lalu yang terjadi saat ini sangat berkurang,” tuturnya. Ia menyebut Indonesia telah kehilangan sekitar 11 juta hektare hutan atau setara 110 kali luas Kota Jakarta.
Hening juga menekankan persoalan lingkungan tidak dapat dilepaskan dari nilai spiritual. “Kita kembali kepada akidah, maka tauhid kita tercerminkan dalam tindakan,” ujarnya.
Sejak 2007, Teologi Lingkungan bekerja sama dengan Majelis Lingkungan Hidup serta Kementerian Lingkungan Hidup menginisiasi berbagai gerakan, termasuk Gerakan 1000 Cahaya. Dalam dua tahun terakhir, program ini menggandeng 270 kepala keluarga dari Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) untuk mengikuti pelatihan efisiensi energi. Pelatihan juga melibatkan 40 peserta dari Pondok Pesantren Zamzam dan 50 guru.
Audit energi yang dilakukan di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping turut mengungkap temuan yang dinilai penting. “Ternyata yang berat itu bukan di ruang operasi tetapi di ruang tempat makan dan laundry,” ungkap Hening. Hasil audit tersebut disebut akan segera diluncurkan sebagai dasar rekomendasi efisiensi serta potensi transisi energi di sejumlah titik yang dinilai boros.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY Kusno Wibowo menyampaikan capaian bahwa Yogyakarta dinobatkan sebagai provinsi dengan pengelolaan hutan terbaik se-Indonesia pada 2025. “Yogyakarta hutannya sebagai hutan terbaik se-Indonesia tahun 2025, tidak ada perusakan hutan dan alhamdulillah mendapat penghargaan,” ujarnya.
Meski demikian, Kusno menegaskan masih ada sejumlah isu strategis yang perlu menjadi perhatian, mulai dari perubahan iklim global, tingginya timbulan sampah, menurunnya kualitas air sungai akibat limbah industri rumah tangga, kos, dan laundry, hingga rendahnya tingkat ketaatan pelaku usaha terhadap regulasi lingkungan.
Ia menyoroti persoalan sampah sebagai tantangan besar karena sebagian besar sampah DIY berakhir di TPA Piyungan. Berdasarkan surat Gubernur DIY tertanggal 19 Oktober 2023, pengelolaan sampah akan didesentralisasikan ke kabupaten/kota mulai 2024. Pelaksanaan penuh kebijakan tersebut mempertimbangkan kapasitas zona tampung di TPA Piyungan serta kesiapan fasilitas pengelolaan di masing-masing daerah.
Kusno juga mengingatkan pentingnya peran masyarakat melalui prinsip 3R (reduce, reuse, recycle). “Jangan lupa bapak ibu untuk menangani pengelolaan dan mengurangi sampah dengan 3R,” pesannya. Data menunjukkan timbulan sampah terbesar di DIY berasal dari sisa makanan, sehingga gerakan minim sampah seperti menghabiskan makanan dan menggunakan tumbler disebut sebagai langkah sederhana yang dapat memberi dampak.

