Brussels—Sejumlah pemimpin Eropa menyatakan dukungan bagi Ukraina setelah pertemuan di Gedung Putih antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky berujung pada perdebatan sengit pada Jumat. Dalam pertemuan itu, Trump menyebut Zelensky “tidak sopan.”
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas menilai situasi tersebut menunjukkan bahwa “dunia bebas membutuhkan pemimpin baru.” “Ukraina adalah Eropa! Kami mendukung Ukraina,” tulis Kallas di platform X.
Dukungan juga disampaikan Kanselir Jerman Olaf Scholz yang menulis, “Ukraina dapat mengandalkan Jerman — dan Eropa.” Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menyatakan, “Ukraina, Spanyol mendukung Anda.”
Perdana Menteri Polandia Donald Tusk turut menyampaikan pesan kepada Zelensky. “Yang terhormat @ZelenskyyUa, sahabat Ukraina yang terhormat, Anda tidak sendirian,” tulisnya di X.
Presiden Prancis Emmanuel Macron, saat berbicara kepada wartawan di Portugal, menegaskan posisi negaranya dengan mengatakan, “Rusia adalah agresor, dan Ukraina adalah orang-orang yang diserang.” Sejumlah pemimpin Eropa lain, termasuk dari Finlandia, Belanda, Republik Ceko, dan Norwegia, juga menyuarakan dukungan melalui media sosial.
Namun, tidak semua pemimpin Eropa mengambil sikap yang sama. Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban, yang selama ini mengkritik bantuan militer Uni Eropa untuk Kyiv, justru memuji Trump. “Presiden @realDonaldTrump berdiri dengan berani untuk perdamaian. Meski sulit bagi banyak orang untuk menerimanya. Terima kasih, Tuan Presiden!” tulis Orban di X.
Pertemuan Trump dan Zelensky berlangsung di tengah upaya kedua negara mencapai kesepakatan yang memungkinkan AS mengakses hak mineral langka Ukraina. Diskusi disebut berubah menjadi agresif sekitar 40 menit setelah dimulai ketika Zelensky mengangkat isu invasi Rusia ke Krimea pada 2014.
Wakil Presiden AS JD Vance kemudian mengkritik Zelensky, menuduhnya terlibat dalam “tur propaganda.” Vance dan Trump juga menuding pemimpin Ukraina itu tidak berterima kasih atas bantuan yang telah diterima negaranya dari Washington.
Setelah pertemuan berakhir secara tiba-tiba, Gedung Putih mengonfirmasi bahwa kesepakatan mineral tersebut tidak ditandatangani.

