Myanmar pada Minggu (25/1) memulai putaran ketiga sekaligus terakhir pemilihan umum yang berlangsung selama sebulan. Pemilu yang digelar di bawah pemerintahan junta militer ini diperkirakan akan dimenangkan telak oleh partai pro-militer, di tengah kritik bahwa proses tersebut hanya akan memperpanjang cengkeraman militer atas kekuasaan.
Pemungutan suara berlangsung di puluhan daerah pemilihan sejak pukul 06.00 waktu setempat. Tahap terakhir ini digelar kurang dari sepekan menjelang peringatan lima tahun kudeta militer yang menggulingkan pemerintahan sipil pada 2021.
Menurut laporan AFP, militer Myanmar menyatakan pemilu tersebut bertujuan mengembalikan kekuasaan kepada rakyat. Namun, tokoh demokrasi Aung San Suu Kyi masih ditahan, sementara partainya yang populer, Liga Demokrasi Nasional (NLD), telah dibubarkan. Kondisi itu membuat para pegiat demokrasi menilai pemilu berlangsung berat sebelah.
Pemimpin junta Min Aung Hlaing, yang tidak menutup kemungkinan menjadi presiden setelah pemilu, terlihat mengunjungi tempat pemungutan suara di Mandalay dengan pakaian sipil. “Ini adalah jalan yang dipilih oleh rakyat. Saya juga bagian dari rakyat dan mendukung ini,” ujarnya kepada wartawan.
Dalam dua tahap pemilu sebelumnya, Partai Persatuan Solidaritas dan Pembangunan (USDP)—yang didominasi pensiunan perwira militer—telah memenangkan lebih dari 85 persen kursi DPR dan sekitar dua pertiga kursi majelis tinggi. Selain itu, konstitusi rancangan militer secara otomatis memberikan seperempat kursi parlemen kepada angkatan bersenjata.
Pakar HAM PBB Tom Andrews menilai pemilu ini telah direkayasa untuk memastikan kemenangan besar bagi sekutu militer. Ia juga memperingatkan bahwa negara-negara yang mengakui hasil pemilu berisiko ikut melegitimasi kekuasaan junta, sebagaimana dikutip AFP.
Meski menuai kritik, sebagian warga tetap menggunakan hak pilih. Seorang guru di Mandalay, Zaw Ko Ko Myint, mengaku tidak berekspektasi tinggi. “Walaupun saya tidak mengharapkan banyak, kami ingin melihat negara yang lebih baik,” katanya.
Seorang warga Yangon lainnya menyampaikan sikap pesimistis terhadap pemilu. “Saya tidak mengharapkan apa pun dari pemilu ini. Semuanya akan terus berlarut-larut,” ujarnya.

