Industri energi baru dan terbarukan (EBT) dinilai memegang peran strategis dalam mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar delapan persen. Sejalan dengan itu, pemerintah mendorong transformasi bauran energi nasional melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).
Dalam periode 2025-2034, pemerintah menargetkan perluasan kapasitas pembangkit EBT hingga 76 persen. Dorongan tersebut membuat sektor EBT semakin menarik perhatian, yang tercermin dari masuknya penyertaan modal asing serta investasi dari perusahaan-perusahaan besar.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Telisa Aulia Falianty, menyampaikan bahwa ketertarikan investor global menunjukkan tingginya kepercayaan terhadap prospek pengembangan EBT di Indonesia. Menurutnya, EBT memiliki potensi nilai ekonomi yang tinggi, meski masih dihadapkan pada sejumlah tantangan.
Telisa menilai salah satu sumber EBT dengan potensi besar di Indonesia adalah panas bumi atau geothermal. Ia menyebut potensi panas bumi Indonesia tercatat sebagai yang terbesar kedua di dunia, dengan kapasitas sekitar 24 gigawatt (GW). Karena itu, ia menekankan pentingnya dukungan pemerintah untuk menyelesaikan tantangan yang masih ada, seraya menyatakan berbagai kajian telah dilakukan guna mendukung pengembangan panas bumi secara berkelanjutan.
Ia menjelaskan, tantangan industri panas bumi di Indonesia mencakup aspek teknis, regulasi, hingga pembiayaan. Menurut Telisa, tantangan-tantangan tersebut perlu diselesaikan secara bertahap agar pengembangan panas bumi dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan. Ia juga menyebut Indonesia telah memiliki cukup banyak kajian dan pemetaan terkait potensi panas bumi.
Dari sisi pembiayaan, Telisa menilai pembentukan Danantara berpotensi menjadi katalis penting untuk mempercepat akselerasi pemanfaatan panas bumi dalam mendukung perekonomian nasional. Ia berharap PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (PGEO) sebagai pemain panas bumi terbesar di tingkat nasional dapat membantu merumuskan dan mengimplementasikan solusi atas berbagai tantangan yang ada.
PGE baru-baru ini mengumumkan pergantian kepemimpinan, dengan Ahmad Yani resmi menjabat sebagai Direktur Utama menggantikan Julfi Hadi. Telisa menilai pergantian kepemimpinan tersebut dapat menjadi langkah untuk menjawab kendala operasional dalam pengembangan panas bumi. Ia juga menyampaikan pandangannya bahwa perubahan itu dilakukan untuk menyesuaikan ekosistem yang sedang dibangun agar sesuai dengan ekspektasi dari Danantara.
Dalam keterangan resmi, PGE memperkuat kepemimpinan perusahaan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar di Jakarta pada Senin, 20 Januari 2026. Selain menunjuk Ahmad Yani sebagai Direktur Utama, PGE juga menetapkan Andi Joko Nugroho sebagai Direktur Operasi, posisi yang sebelumnya dijabat Ahmad Yani.
Sebelumnya, Ahmad Yani menjabat sebagai Direktur Operasi PGE sejak 2023. Ia disebut memiliki rekam jejak panjang dan pengalaman di industri panas bumi, serta berkontribusi dalam menjaga keandalan operasi dan meningkatkan efisiensi pembangkitan selama masa jabatannya.

