Pemerintah memastikan ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat tidak berdampak pada pelaksanaan ibadah haji 1447 Hijriah atau tahun 2026. Seluruh tahapan penyelenggaraan haji disebut tetap berjalan sesuai rencana, termasuk jadwal keberangkatan jemaah Indonesia yang akan dimulai pada April 2026.
Menteri Haji dan Umrah RI Irfan Yusuf, yang akrab disapa Gus Irfan, menyampaikan bahwa kesiapan penyelenggaraan haji tahun ini hampir mencapai 100 persen. Ia menyebut pemberangkatan kloter pertama jemaah haji Indonesia direncanakan dimulai pada 22 April 2026. Pernyataan itu disampaikan saat kegiatan manasik haji di Kota Blitar, Jawa Timur.
Menurut Gus Irfan, pemerintah telah menyiapkan sejumlah aspek penting, mulai dari transportasi, akomodasi di Mekkah dan Madinah, konsumsi, hingga perlengkapan jemaah. Pemerintah juga telah bekerja sama dengan pihak syarikah di Arab Saudi untuk memastikan kualitas layanan selama jemaah berada di Tanah Suci.
Selain itu, distribusi kartu Nusuk sebagai identitas resmi jemaah disebut telah dipersiapkan dan akan dibagikan saat di embarkasi. Pemerintah menegaskan pelaksanaan haji tetap aman dan terkendali meski situasi global sempat memicu kekhawatiran.
Di tengah kondisi geopolitik yang memanas, potensi dampak yang mungkin muncul dinilai bersifat teknis, seperti penyesuaian rute penerbangan atau pengaturan logistik perjalanan. Namun, pemerintah menyatakan telah menyiapkan langkah antisipasi untuk menjaga kelancaran dan keamanan perjalanan jemaah.
Gus Irfan juga mengingatkan calon jemaah agar memaksimalkan manasik haji sebagai bekal utama. Ia menekankan bahwa ibadah haji bukan hanya perjalanan fisik, melainkan membutuhkan kesiapan mental serta pemahaman syariat. “Bapak dan Ibu adalah orang-orang yang beruntung. Manasik ini menjadi bekal penting agar ibadah dapat dilaksanakan dengan benar, disiplin, dan penuh kebersamaan,” ujarnya.

