Jakarta — Pemerintah menegaskan fondasi fiskal Indonesia masih kuat dan terkendali di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat tensi geopolitik. Konflik antara sejumlah negara besar, termasuk Amerika Serikat dan Iran, dinilai berpotensi memicu gejolak ekonomi dunia melalui fluktuasi harga energi, tekanan pada pasar keuangan, serta ketidakpastian perdagangan internasional.
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyatakan fundamental ekonomi Indonesia tetap resilien menghadapi dinamika global tersebut. Ia menekankan pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dilakukan secara pruden dan fleksibel untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
“Fundamental ekonomi kita masih kuat dan resilient. Pertumbuhan ekonomi tetap terjaga, inflasi terkendali, dan defisit fiskal masih di bawah batas yang ditetapkan undang-undang,” ujar Juda.
Pemerintah juga menyiapkan berbagai skenario untuk mengantisipasi dampak konflik geopolitik yang berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia. Menurut Juda, kondisi fiskal Indonesia diperkirakan masih mampu mengantisipasi lonjakan harga minyak hingga kisaran 80–90 dolar Amerika Serikat (AS) per barel, dengan defisit APBN tetap dijaga di bawah ambang aman 3 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Di sisi domestik, kinerja ekonomi disebut tetap menunjukkan ketahanan. Juda menyampaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 tercatat sekitar 5,11 persen, sementara pada kuartal IV-2025 mencapai sekitar 5,39 persen.
Dari sisi fiskal, defisit anggaran tercatat sekitar 2,92 persen dari PDB, masih berada di bawah batas maksimal 3 persen sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Keuangan Negara. Sementara itu, rasio utang pemerintah terhadap PDB berada di kisaran 40 persen, jauh di bawah batas maksimal 60 persen.
Juda menilai indikator tersebut menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia relatif lebih baik dibandingkan sejumlah negara dengan peringkat kredit setara. Pemerintah, kata dia, akan terus menjaga disiplin fiskal sekaligus memastikan belanja negara tetap produktif dan tepat sasaran guna menopang stabilitas dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di tengah ketidakpastian geopolitik global.

