Stabilitas nilai tukar rupiah dinilai menjadi salah satu fondasi penting bagi kesehatan perekonomian nasional di tengah dinamika global yang terus berubah. Ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga komoditas, serta perubahan kebijakan moneter negara-negara besar disebut sebagai faktor yang dapat memberi tekanan pada pasar keuangan, sehingga koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia (BI) dipandang krusial untuk menjaga rupiah tetap stabil.
Koordinasi kebijakan makro antara pemerintah dan BI digambarkan berjalan melalui peran masing-masing. Pemerintah berfokus pada disiplin fiskal, pengendalian defisit anggaran, dan memastikan program pembangunan berkelanjutan. Sementara BI menjalankan kebijakan moneter yang pruden, termasuk pengendalian inflasi, stabilisasi nilai tukar, serta penguatan sistem keuangan. Keselarasan langkah dan komunikasi kebijakan disebut dapat memberikan sinyal positif bagi pasar dan memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Dalam merespons perkembangan pasar keuangan global, BI menyatakan terus aktif melakukan langkah stabilisasi di pasar valuta asing, menjaga likuiditas rupiah, dan memperkuat koordinasi dengan pelaku pasar. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan BI akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar, antara lain guna mencegah dampak meluasnya konflik di Timur Tengah. Ia menyebut pelemahan rupiah masih sejalan dengan kondisi regional, dengan pelemahan month to date sebesar 0,51% dan dinilai relatif lebih baik dibandingkan mata uang di kawasan.
Di sisi lain, pemerintah disebut menjaga fundamental ekonomi melalui penguatan sektor riil, peningkatan ekspor, serta pengendalian impor yang lebih produktif. Pemerintah juga mendorong diversifikasi sumber pertumbuhan ekonomi untuk memperkuat ketahanan rupiah, antara lain melalui program hilirisasi industri, penguatan sektor manufaktur, dan pengembangan ekonomi digital.
Koordinasi kebijakan turut diperkuat melalui berbagai forum strategis, termasuk rapat koordinasi antara kementerian terkait dan BI untuk merespons perkembangan ekonomi global. Melalui mekanisme tersebut, kebijakan yang diambil diharapkan mempertimbangkan aspek fiskal, moneter, dan stabilitas sistem keuangan secara menyeluruh.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan perekonomian Indonesia tidak sedang menuju krisis atau resesi meski rupiah melemah hingga menyentuh Rp17.000 per dolar Amerika Serikat dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan. Ia mengatakan kondisi ekonomi Indonesia justru sedang ekspansi dan pemerintah terus menjaga daya beli masyarakat, serta menegaskan perekonomian masih berada pada fase pertumbuhan positif.
Stabilitas rupiah juga dinilai berdampak langsung bagi masyarakat dan dunia usaha. Nilai tukar yang terjaga disebut membantu mengendalikan inflasi, menjaga daya beli, serta memberi kepastian bagi pelaku usaha dalam menyusun rencana produksi dan investasi.
Ke depan, ketidakpastian global diperkirakan masih berlanjut. Namun, koordinasi yang kuat antara pemerintah dan BI dipandang menjadi salah satu kunci untuk mempertahankan stabilitas ekonomi sekaligus menjaga kepercayaan terhadap perekonomian nasional.

