BERITA TERKINI
Pembicaraan Dagang AS–Tiongkok di Stockholm Dorong Perpanjangan Gencatan 90 Hari, Keputusan Menunggu Trump

Pembicaraan Dagang AS–Tiongkok di Stockholm Dorong Perpanjangan Gencatan 90 Hari, Keputusan Menunggu Trump

STOCKHOLM—Amerika Serikat dan Tiongkok sepakat mendorong perpanjangan gencatan dagang selama 90 hari setelah menjalani dua hari pembicaraan maraton di Stockholm. Meski demikian, keputusan final tetap menunggu persetujuan Presiden AS Donald Trump, sementara tenggat gencatan saat ini berakhir pada 12 Agustus.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pertemuan berlangsung konstruktif, namun belum ada persetujuan akhir. Ia menegaskan keputusan apakah gencatan akan diperpanjang atau tarif kembali melonjak ke level tiga digit berada di tangan Trump. Bessent juga menyatakan akan bertemu Trump setelah keduanya kembali ke Washington untuk membahas langkah berikutnya.

Trump, yang baru kembali ke Washington usai kunjungan ke Skotlandia dan penandatanganan kesepakatan dagang dengan Uni Eropa, menyebut Bessent telah memberi pengarahan mengenai hasil pembicaraan dengan Tiongkok. Menurut Trump, Bessent menilai pertemuan tersebut positif dan lebih baik dibanding hari sebelumnya.

Tidak ada terobosan besar yang diumumkan dari pertemuan di Stockholm. Namun, Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer menyebut perpanjangan 90 hari menjadi salah satu opsi yang dibahas. Greer menegaskan pihaknya akan membawa laporan positif ke Washington, tetapi keputusan terkait perpanjangan gencatan tetap menjadi kewenangan presiden.

Pada Mei, kedua negara sempat sepakat mundur dari kebijakan tarif balasan tiga digit yang nyaris menyerupai embargo dagang bilateral. Tanpa kesepakatan lanjutan, risiko guncangan terhadap rantai pasok global dan pasar keuangan dinilai dapat kembali meningkat.

Bessent juga menyampaikan kemungkinan adanya pertemuan lanjutan pejabat AS dan Tiongkok dalam sekitar 90 hari. Ia mengatakan pembahasan mengenai aliran logam tanah jarang dari Tiongkok semakin mengerucut setelah pertemuan sebelumnya di Jenewa dan London. Menurutnya, hubungan personal antartim juga mulai terbentuk dan saling menghormati, sehingga kedua pihak kian memahami agenda masing-masing.

Di sisi lain, Dana Moneter Internasional (IMF) pada Selasa menaikkan proyeksi pertumbuhan global, namun memperingatkan potensi lonjakan tarif tetap menjadi salah satu risiko utama.

Kepala negosiator dagang Tiongkok, Li Chenggang, menyatakan kedua pihak memahami pentingnya menjaga hubungan ekonomi dan perdagangan yang stabil serta sehat. Ia mengatakan tim ekonomi dan perdagangan kedua negara akan menjaga komunikasi aktif, bertukar pandangan secara tepat waktu, dan terus mendorong perkembangan hubungan bilateral yang stabil.

Pembicaraan di Stockholm juga memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan pertemuan Trump dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada akhir tahun. Pejabat AS menyatakan topik itu tidak dibahas dalam forum Stockholm, dan Trump membantah secara aktif mengupayakan pertemuan tersebut. Namun, dalam pernyataannya di Air Force One, Trump mengatakan ia memperkirakan akan bertemu Xi sebelum akhir tahun tanpa merinci lebih lanjut.

Selain isu tarif, pertemuan Stockholm turut membahas kondisi ekonomi AS dan Tiongkok. Greer dan Bessent menekankan perlunya Tiongkok beralih dari ekonomi berbasis ekspor yang dikendalikan negara menuju model yang lebih didorong permintaan konsumen, yang dinilai dapat membuka peluang lebih besar bagi ekspor AS. Sementara itu, media pemerintah Tiongkok, Xinhua, menyatakan kerja sama kedua negara akan menguntungkan kedua pihak, sedangkan konflik akan merugikan keduanya.

Pertemuan Stockholm berlangsung setelah Trump menandatangani kesepakatan dagang dengan Uni Eropa yang menetapkan tarif 15% untuk sebagian besar ekspor barang UE ke AS, serta kesepakatan terpisah dengan Jepang. Kesepakatan AS–UE disambut lega, tetapi juga memicu kritik di Eropa, termasuk dari Prancis yang menyebutnya sebagai bentuk “penyerahan diri,” dan peringatan dari Jerman mengenai risiko “kerusakan signifikan.”

Menurut analis, posisi tawar Tiongkok dinilai kuat karena dominasinya atas pasokan global logam tanah jarang dan magnet, komponen yang digunakan mulai dari perangkat militer hingga kebutuhan otomotif seperti motor wiper. Kepala ekonom Hamburg Commercial Bank, Cyrus de la Rubia, menilai berbeda dengan Uni Eropa, Tiongkok tidak bergantung pada AS untuk jaminan keamanan dan dapat membiarkan proses negosiasi berjalan lebih lama.

Di luar tarif, Washington mengeluhkan model ekonomi Tiongkok yang dinilai dikendalikan negara dan mendorong ekspor murah ke pasar global. Sebaliknya, Beijing menuding kontrol ekspor AS atas teknologi sebagai upaya menghambat pertumbuhan Tiongkok.

Secara terpisah pada Selasa, Menteri Perindustrian Tiongkok bertemu delegasi bisnis AS, termasuk Apple, di Beijing. Dalam pertemuan itu, ia berjanji menjamin persaingan pasar yang adil dan terbuka, serta memberikan dukungan dan layanan bagi perusahaan asing.