Pejabat tinggi bidang ekonomi Amerika Serikat (AS) dan China dijadwalkan memulai babak baru perundingan di Paris, Prancis, pada Minggu (15/3). Pertemuan ini diarahkan untuk menyelesaikan hambatan dalam gencatan senjata dagang sekaligus memuluskan rencana kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Beijing untuk bertemu Presiden China Xi Jinping pada akhir Maret.
Diskusi dipimpin Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng. Agenda pembahasan mencakup isu-isu sensitif seperti tarif perdagangan, aliran mineral tanah jarang (rare earth), kontrol ekspor teknologi tinggi, serta pembelian produk pertanian AS oleh China.
Pertemuan yang digelar di markas besar OECD itu berlangsung ketika perhatian Washington disebut terpecah akibat perang AS-Israel melawan Iran. Sejumlah analis menilai peluang terobosan besar dalam perdagangan masih terbatas.
“Tujuan minimal kedua belah pihak adalah mempertahankan komunikasi guna menghindari keretakan dan eskalasi ketegangan kembali,” ujar Scott Kennedy, pakar ekonomi China dari CSIS di Washington, seperti dilansir Reuters.
Dalam perundingan ini, Trump disebut menginginkan komitmen besar dari China untuk memesan pesawat Boeing, gas alam cair (LNG), dan kedelai. Sebagai imbalannya, China kemungkinan menuntut pelonggaran kontrol ekspor AS terhadap teknologi semikonduktor.
AS juga mendorong akses yang lebih besar terhadap mineral tanah jarang, terutama yttrium yang dibutuhkan industri kedirgantaraan dan disebut tengah mengalami kelangkaan parah.
Dampak perang Iran dan harga minyak
Konflik di Timur Tengah diperkirakan membayangi meja perundingan. China memiliki kepentingan besar karena 45 persen kebutuhan minyaknya bergantung pada Selat Hormuz yang saat ini terancam ditutup.
Bessent telah mengumumkan penangguhan sanksi selama 30 hari untuk memungkinkan penjualan minyak Rusia yang tertahan di kapal tanker, dengan alasan menjaga stabilitas pasokan global. Di sisi lain, Trump mendesak negara-negara lain membantu melindungi jalur pelayaran di Selat Hormuz setelah AS membom fasilitas minyak di Pulau Kharg, Iran.
Media pemerintah China, China Daily, menyebut dialog AS-China sebagai “jangkar penyeimbang” di tengah ketidakpastian krisis Timur Tengah. “Hal terakhir yang dibutuhkan dunia saat ini adalah perang dagang antara dua ekonomi terbesar,” tulis editorial tersebut.
Kedua pihak juga akan meninjau kemajuan gencatan senjata dagang yang dideklarasikan di Busan, Korea Selatan, pada Oktober 2025. Sejauh ini, China dinilai memenuhi komitmen awal dengan membeli jutaan ton kedelai AS.
Namun, ketegangan baru muncul setelah AS meluncurkan investigasi “Section 301” terkait dugaan kelebihan kapasitas industri dan praktik kerja paksa, yang dapat berujung pada tarif baru dalam beberapa bulan ke depan. Langkah ini disebut sebagai upaya Trump membangun kembali tekanan tarif setelah Mahkamah Agung AS membatalkan beberapa tarif daruratnya sebelumnya.

