Pasar keuangan global berbalik menguat setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan jeda dua minggu dalam aksi militer untuk membuka ruang negosiasi dengan Iran. Sentimen risiko membaik tajam: harga minyak jatuh, dolar AS melemah, sementara saham dan emas menguat.
Menurut laporan, proposal jeda tersebut didasarkan pada rencana 10 poin dari Iran yang dinilai “dapat dijalankan.” Respons pasar terlihat jelas pada pergerakan aset utama. Futures indeks saham AS menguat sekitar 2,50–3,10%, sementara indeks dolar (USDIDX) turun 0,90%. Harga emas naik 2,26%. Di sisi energi, minyak Brent dan WTI masing-masing merosot 10,30% dan 12,80% ke kisaran 94 dan 95 dolar AS per barel.
Meski demikian, peluang tercapainya kesepakatan jangka panjang dinilai masih terbatas. Iran disebut mengajukan sejumlah tuntutan, termasuk pencabutan penuh sanksi, kelanjutan pengaruh regional, serta kontrol atas jalur transit melalui Selat Hormuz. Syarat-syarat ini dipandang sulit diterima oleh AS, sehingga kesenjangan posisi kedua pihak tetap besar. Karena itu, gencatan senjata dipandang berpotensi hanya menjadi jeda taktis, meski reaksi pasar pada hari itu tetap tegas.
Kekhawatiran pasokan energi juga belum sepenuhnya mereda. Bahkan dalam skenario gencatan senjata, lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz disebut dapat tetap terbatas pada 10–15 kapal per hari. Situasi tersebut mengindikasikan hambatan logistik dan masalah pasokan yang berkelanjutan. Iran juga berpotensi memberlakukan biaya dan kontrol atas transit, yang dapat membuat pertumbuhan pasokan tetap terbatas secara struktural.
Dari sisi kawasan, Israel mengisyaratkan gencatan senjata tidak berlaku untuk operasinya di Lebanon. Hal ini menunjukkan adanya pihak yang tampak enggan sepenuhnya mengikuti proses de-eskalasi yang melibatkan AS dan Iran.
Iran juga mengonfirmasi pembicaraan akan berlangsung di Islamabad pada 10 April, dengan Pakistan bertindak sebagai mediator utama. Jadwal tersebut menandakan jendela waktu yang sempit untuk mencapai kesepakatan, sementara hasil perundingan dipandang krusial bagi arah konflik berikutnya.
Di luar geopolitik, pasar turut mencermati sinyal kebijakan bank sentral. Wakil Ketua The Fed, Jefferson, menyoroti meningkatnya risiko inflasi di tengah melemahnya pasar tenaga kerja. Kenaikan harga minyak disebut memperumit prospek kebijakan moneter, sehingga The Fed mengisyaratkan pendekatan yang sabar dan kemungkinan mempertahankan suku bunga.
Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) mempertahankan suku bunga di 2,25% namun memperingatkan peningkatan inflasi dan perlambatan pertumbuhan. Inflasi disebut dapat mencapai sekitar 4,2% akibat kenaikan harga energi, dan bank sentral menyatakan tetap siap menaikkan suku bunga bila tekanan inflasi berlanjut.
Sementara itu di Jepang, upah riil meningkat pada laju tercepat dalam lima tahun, memperkuat alasan bagi Bank of Japan (BOJ) untuk melanjutkan kenaikan suku bunga.
Di sektor teknologi, Anthropic menunda peluncuran publik model AI canggih karena risiko keamanan siber. Model tersebut disebut mampu mendeteksi kerentanan dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan kini digunakan secara selektif untuk memperkuat sistem pertahanan.