BERITA TERKINI
Pameran di Istana Buckingham Ungkap Diplomasi Mode Ratu Elizabeth II

Pameran di Istana Buckingham Ungkap Diplomasi Mode Ratu Elizabeth II

Sebuah pameran khusus di Istana Buckingham membuka kesempatan bagi publik untuk melihat lebih dekat peran mode dalam aktivitas diplomatik Ratu Elizabeth II. Melalui hampir 300 artefak yang dipamerkan untuk pertama kalinya, pameran ini menyoroti bagaimana pilihan busana sang ratu kerap memuat pesan halus yang melampaui soal estetika.

Bertajuk “Queen Elizabeth II: Her Life in Style”, pameran yang berlangsung hingga Oktober ini merekonstruksi perjalanan gaya hidup Ratu Elizabeth II (1926–2022), penguasa dengan masa pemerintahan terlama dalam sejarah Inggris. Selain merayakan selera berbusana yang dikenal elegan dan konsisten, pameran ini menempatkan pakaian sebagai bagian dari strategi komunikasi diplomatik—bentuk “kekuatan lunak” yang oleh sejumlah ahli disebut sebagai “diplomasi mode.”

Salah satu bagian yang menonjol adalah sketsa gaun malam yang dikenakan Ratu saat kunjungan resmi ke India dan Pakistan pada 1961. Dalam catatan tulisan tangan, Ratu meminta agar gaun tersebut dibuat dari sutra satin berwarna kuning, warna yang melambangkan kesehatan dan kemakmuran dalam budaya wilayah itu. Detail ini ditampilkan sebagai contoh perhatian Ratu dalam menyampaikan penghormatan dan niat baik kepada negara tuan rumah.

Pameran juga menampilkan busana dengan muatan politik dan budaya yang kuat, termasuk gaun pengantin tahun 1947 dan gaun penobatan rancangan Norman Hartnell. Keduanya dihiasi sulaman simbol-simbol Kerajaan Inggris—mawar Inggris, daun bawang Wales, dan bunga thistle Skotlandia—serta motif yang mewakili negara-negara Persemakmuran.

Koleksi lain yang turut dipamerkan antara lain gaun malam dari Balenciaga, seragam militer yang dikenakan Ratu saat bertugas pada Perang Dunia II, serta deretan topi berwarna cerah yang menjadi ciri khas penampilannya.

Kurator pameran, Caroline de Guitaut, menyatakan bahwa busana Ratu tidak hanya mencerminkan gaya pribadi, tetapi juga memiliki tujuan diplomatik yang jelas. Ia mencontohkan kunjungan Ratu ke Australia pada 1954, ketika Ratu mengenakan selendang bersulam bunga aprikot kuning yang merupakan simbol nasional negara tersebut. Saat berkunjung ke Pakistan pada 1961, Ratu juga memilih pakaian dengan warna bendera nasional sebagai bentuk penghormatan dan keterkaitan dengan tuan rumah.

Sejarawan Lisa Hackett dari Universitas New England menilai pendekatan tersebut menandai pergeseran fungsi busana kerajaan. Jika pada masa lalu pakaian kerap dipakai untuk menonjolkan kekuasaan dan kekayaan, maka dalam konteks modern mode dapat menjadi sarana menyampaikan pesan penghormatan, niat baik, dan kerja sama internasional.

Pameran ini juga menampilkan sejauh mana keterlibatan Ratu dalam membentuk citra dirinya. Ia disebut tidak hanya memilih perancang busana, tetapi juga memberikan catatan rinci mengenai warna, bahan, dan aksesori, menunjukkan kendali yang kuat atas penampilannya.

Dari arsip yang berisi lebih dari 4.000 item, sekitar 300 artefak dipilih untuk pameran ini. Antusiasme publik terlihat dari tiket bulan pembukaan yang dilaporkan telah terjual habis.