Kementerian Luar Negeri Pakistan menyatakan Amerika Serikat dan Iran masih berada dalam tahap diskusi melalui mediator di Islamabad untuk menggelar pertemuan kedua, menyusul perang yang telah berlangsung hampir tujuh pekan. Upaya tersebut dilakukan di tengah gencatan senjata rapuh yang diumumkan pada 8 April dan kini mendekati masa kedaluwarsa.
Meski Islamabad disebut meningkatkan langkah diplomatik paralel agar proses perdamaian tetap berjalan, Kementerian Luar Negeri Pakistan menegaskan belum ada tanggal pasti untuk putaran negosiasi berikutnya. “Rincian mengenai delegasi yang hadir sepenuhnya merupakan keputusan pihak-pihak yang terlibat,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan Tahir Andrabi, Jumat (17/4/2026).
Andrabi juga menekankan pentingnya menjaga kerahasiaan detail perundingan yang dipercayakan kepada Pakistan sebagai mediator. Mengenai putaran pertama pembicaraan pada 12 April di Islamabad yang berakhir tanpa kesepakatan, ia mengatakan tidak ada terobosan besar, namun juga tidak dapat disebut sebagai kegagalan total.
Ia mengonfirmasi isu nuklir tetap menjadi subjek utama pembahasan, meski enggan merinci lebih lanjut. Pernyataan itu muncul ketika kepemimpinan sipil dan militer Pakistan menjalankan perjalanan regional yang oleh pengamat disebut sebagai “Proses Islamabad” untuk membingkai negosiasi sebagai upaya diplomatik berkelanjutan.
Dalam jalur diplomasi paralel, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif tiba di Doha sebagai perhentian kedua tur regionalnya setelah mengunjungi Jeddah. Pada saat yang sama, Panglima Pertahanan Pakistan (CDF) Asim Munir tiba di Teheran dan disambut Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, yang menyampaikan apresiasi atas peran Pakistan sebagai tuan rumah dialog.
Duta Besar Iran untuk Pakistan, Reza Amiri Moghadam, menyatakan Teheran hanya memercayai Pakistan sebagai lokasi perundingan dengan Washington. Analis keamanan Muhammad Faisal menilai strategi Pakistan kini berjalan dalam dua jalur: Sharif berupaya meyakinkan sekutu di Teluk, sementara Munir berfokus pada negosiasi teknis antara kedua pihak untuk memperpanjang gencatan senjata.
Di Jeddah, Sharif bertemu Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman yang disebut memuji peran konstruktif Pakistan. Di Doha, Sharif membahas pentingnya deeskalasi bersama Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani sebelum melanjutkan perjalanan ke Turki.
Pertemuan di Antalya, Turki, disebut sebagai bagian dari upaya keamanan regional yang melibatkan Pakistan, Arab Saudi, dan Mesir, terpisah dari upaya mengakhiri perang Iran. Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan mengatakan diskusi dilakukan agar negara-negara kawasan dapat saling menjamin keamanan. Turki juga menyatakan dukungan agar gencatan senjata AS-Iran saat ini dapat berkembang menjadi perdamaian permanen.
Gencatan senjata dua pekan yang dimediasi Pakistan dijadwalkan berakhir pada 22 April, namun menghadapi tekanan akibat blokade angkatan laut AS di pelabuhan-pelabuhan Iran. Jurnalis Kamran Yousuf memperkirakan gencatan senjata akan diperpanjang karena kedua pihak dinilai memiliki sedikit keinginan untuk kembali berperang.
Namun Faisal memperingatkan bahwa bila putaran kedua tidak dapat diamankan, peran Pakistan berpotensi bergeser dari mediator menjadi pengelola krisis. Di tengah ketidakpastian, sinyal dari Washington dan Teheran disebut tetap optimistis, dengan Gedung Putih menyatakan kemungkinan besar pembicaraan lanjutan akan berlangsung di Islamabad.
Presiden Donald Trump juga menyatakan ketertarikannya untuk kembali berunding di Pakistan dalam waktu dekat. Meski demikian, sejumlah hambatan besar masih membayangi, termasuk tuntutan Iran agar isu Lebanon dimasukkan dalam kesepakatan, serta perbedaan pandangan terkait program nuklir dan penutupan Selat Hormuz yang berdampak signifikan pada harga minyak dunia.