BERITA TERKINI
Pakar: Tiongkok Tempatkan Indonesia sebagai Poros Strategis di ASEAN di Tengah Rivalitas dengan AS

Pakar: Tiongkok Tempatkan Indonesia sebagai Poros Strategis di ASEAN di Tengah Rivalitas dengan AS

Indonesia dinilai memiliki posisi strategis dalam dinamika internasional, termasuk bagi Tiongkok yang disebut menempatkan Jakarta sebagai salah satu fokus utama kebijakan luar negerinya di Asia Tenggara. Penilaian ini mengemuka di tengah meningkatnya persaingan geopolitik antara Tiongkok dan Amerika Serikat.

Pandangan tersebut disampaikan Direktur Center for International Security and Strategy, Wei Da, di sela Munich Security Conference di Jerman. Ia menilai Indonesia merupakan poros strategis yang tidak tergantikan bagi Tiongkok di kawasan Asia Tenggara.

Menurut Wei Da, meski seluruh negara ASEAN penting bagi Beijing, Indonesia kerap dipandang sebagai prioritas dibanding negara anggota lainnya. Ia menyebut hubungan Tiongkok-Indonesia melampaui relasi bilateral pada umumnya.

“Semua negara ASEAN penting bagi China. Tetapi Indonesia adalah negara terbesar dengan populasi besar dan memainkan peran kepemimpinan. Jika ingin menjaga hubungan baik dengan ASEAN, Anda tidak bisa menghindari Jakarta,” ujarnya.

Wei Da menilai sejumlah faktor membuat Indonesia menjadi perhatian utama, mulai dari jumlah penduduk, skala ekonomi, hingga peran geopolitik Indonesia di Asia Tenggara yang dinilai terkait dengan stabilitas kawasan. Indonesia juga dipersepsikan sebagai negara berkembang besar yang memiliki pengaruh signifikan di tingkat global.

Ia menambahkan, Indonesia dikenal sebagai pemimpin di Global South sehingga pandangannya diperhatikan banyak negara. Selain itu, Indonesia merupakan negara berpenduduk mayoritas Muslim, yang menurutnya membuat hubungan bilateral dapat berdampak pada hubungan Tiongkok dengan dunia Islam.

Di sisi lain, Indonesia juga disebut sebagai demokrasi terbesar di Asia Tenggara, sehingga dipandang sebagai mitra penting di tengah keragaman sistem politik negara-negara di kawasan.

“Dari semua faktor ini, Indonesia sangat penting. Ekonominya besar, pasarnya ramah bagi China, dan hubungan ekonomi kedua negara semakin erat,” jelasnya.

Dalam konteks rivalitas yang meningkat, terutama antara Tiongkok dan Amerika Serikat, Wei Da melihat Indonesia berpotensi berperan sebagai penyeimbang kawasan. Ia menyebut Asia-Pasifik sebagai kawasan yang relatif damai dan makmur sejak 1990-an, dengan kontribusi Tiongkok dan Indonesia dalam menjaga kondisi tersebut.

“Asia-Pasifik telah menjadi kawasan paling damai dan makmur sejak 1990-an. China dan Indonesia berperan besar menjaga itu. Kami berharap Indonesia tetap bekerja sama menjaga perdamaian, bukan kompetisi dan rivalitas,” ungkapnya.

Wei Da juga menyatakan keyakinannya bahwa Tiongkok tidak menginginkan Asia Tenggara menjadi arena benturan kekuatan besar. Dalam pandangannya, Indonesia dapat menjadi jangkar stabilitas regional.

Sementara itu, ia menyinggung inisiatif Belt and Road Initiative serta kemitraan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) sebagai cerminan tujuan jangka panjang Tiongkok terhadap Indonesia. Ia mengatakan Tiongkok menargetkan pertumbuhan bersama dengan negara-negara setempat, dengan salah satu proyek unggulan di Indonesia berupa pembangunan kereta cepat oleh perusahaan Tiongkok.

“Tujuan jangka panjang kami adalah berkembang bersama negara-negara lokal. Di Indonesia, proyek unggulannya adalah kereta cepat yang dibangun perusahaan China,” tandasnya.