Para ahli dari Tiongkok dan negara-negara ASEAN berkumpul dalam Program Pelatihan Peningkatan Kapasitas AI (AI Capability-Building Training Program) China-ASEAN 2026 dan Seminar Tingkat Tinggi tentang Tata Kelola dan Teknologi Mutakhir AI (High-Level Seminar on AI Frontier Technologies and Governance) untuk membahas penguatan kerja sama serta peningkatan kapasitas di bidang kecerdasan buatan (AI).
Pertemuan yang dihadiri lebih dari 100 perwakilan di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Jumat (23/1) itu bertujuan mencari titik temu dan bertukar pandangan mengenai perkembangan teknologi AI mutakhir, termasuk tantangan keamanan yang menyertainya. Diskusi berlangsung di tengah perubahan teknologi yang cepat dan meningkatnya kekhawatiran terkait tata kelola AI.
Wakil Presiden Asosiasi Automasi China sekaligus profesor di Institut Automasi, Akademi Ilmu Pengetahuan China (CAS), Hou Zengguang, menyatakan integrasi mendalam antara AI dengan teknologi automasi dan digital tengah membentuk ulang perkembangan global serta memberi pengaruh besar terhadap sektor produksi dan kehidupan sehari-hari.
Hou menambahkan bahwa Tiongkok telah mengumpulkan banyak pengalaman dalam penelitian, pengembangan teknologi, dan penerapan industri di bidang otomasi, yang menurutnya dapat berkontribusi pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi global.
Sementara itu, Direktur sekaligus Perwakilan Kantor Regional UNESCO untuk Asia Timur, Shahbaz Khan, menyebut AI sedang membentuk ulang perindustrian, masyarakat, dan pola kerja sama global. Ia menilai, meskipun menghadirkan peluang yang belum pernah ada sebelumnya, AI juga memunculkan tantangan besar. Karena itu, ia menekankan pentingnya mendorong kerja sama yang inklusif serta membangun sistem tata kelola AI yang adil dan setara sebagai tugas bersama para pemangku kepentingan.
Presiden Federasi Institusi Teknik Asia dan Pasifik, Aung Kyaw Myat, mengatakan negara-negara ASEAN berada di persimpangan yang sangat penting. Ia juga menekankan bahwa peningkatan kapasitas AI perlu menjadi prioritas.
Presiden Universitas Tunku Abdul Rahman, Ewe Hong Tat, menyampaikan bahwa AI dengan cepat memengaruhi struktur ekonomi, layanan publik, keamanan nasional, dan kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, di balik potensi besar tersebut, AI menimbulkan pertanyaan penting terkait tata kelola, etika, keamanan siber, standar, dan kepercayaan masyarakat.
Ewe menilai tantangan-tantangan itu tidak dapat diselesaikan oleh satu lembaga atau satu negara saja, dan membutuhkan penyelarasan yang erat antara pemerintah, pembaca, industri, serta mitra internasional.

