BERITA TERKINI
Oman Serukan Penghentian Perang dan Kembali ke Dialog Diplomatik

Oman Serukan Penghentian Perang dan Kembali ke Dialog Diplomatik

Kementerian Luar Negeri Oman menyerukan agar perang yang sedang berlangsung segera dihentikan dan para pihak kembali menempuh jalur dialog serta diplomasi. Seruan tersebut disampaikan dalam pernyataan yang dipublikasikan di platform media sosial X pada Minggu.

Dalam pernyataannya, Oman menyebut belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan terbaru terhadap Kesultanan Oman. Otoritas terkait, menurut pernyataan itu, masih menyelidiki sumber dan motif serangan tersebut.

Oman juga menyatakan mengutuk perang yang berlangsung serta seluruh tindakan kekerasan dan serangan militer terhadap negara-negara di kawasan. Kesultanan Oman menegaskan tetap berpegang pada prinsip kebijakan “netralitas aktif” dan menyerukan perdamaian, keamanan, serta stabilitas bagi seluruh negara di kawasan.

“Kami meminta diakhirinya perang saat ini serta dimulainya kembali dialog dan diplomasi untuk menangani akar permasalahan dan konflik yang ada,” bunyi pernyataan tersebut, seraya menekankan pentingnya menjaga fondasi, kesejahteraan, dan keamanan bangsa-bangsa di kawasan.

Dalam laporan yang dikutip IRNA, disebutkan bahwa agresi militer bersama Amerika Serikat dan Israel terhadap Republik Islam Iran dimulai pada pagi hari 9 Esfand 1404 (28 Februari 2026), saat perundingan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat dengan mediasi sejumlah negara kawasan masih berlangsung.

Iran menyatakan telah memberikan respons yang tegas, terarah, dan proporsional setelah serangan dimulai. Menurut pernyataan tersebut, target respons Iran mencakup posisi militer dan keamanan Israel di berbagai kota Palestina pendudukan, serta pangkalan dan lokasi penempatan pasukan Amerika Serikat di kawasan, yang disebut diserang dengan rudal, drone, dan serangan udara presisi.

Dalam pesan Nowruz, Ayatullah Mojtaba Khamenei menyatakan bahwa serangan yang terjadi di Turki dan Oman bukan dilakukan oleh angkatan bersenjata Republik Islam maupun kekuatan lain dalam Poros Perlawanan. Ia menyebutnya sebagai tipu daya musuh Zionis dengan taktik “bendera palsu” untuk menciptakan perpecahan antara Republik Islam dan negara-negara tetangganya, serta memperingatkan kemungkinan skenario serupa terjadi di negara lain.

Sementara itu, Elias Hazrati, Ketua Dewan Informasi Pemerintah, dalam kunjungan ke kawasan permukiman terdampak di Provinsi Alborz, mengatakan Iran tengah mendekati formula kesepahaman dalam pembicaraan, namun menilai keputusan untuk menyerang telah diambil sejak awal. Ia menyebut sebagai bukti langsung adanya laporan dari Menteri Luar Negeri Oman yang menyatakan Amerika Serikat memulai operasi militer meski sedang berdialog, serta melakukannya tanpa mematuhi aturan internasional maupun prosedur internal mereka sendiri.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Oman Badr al-Busaidi juga menulis di X bahwa apa pun pandangan terhadap Iran, perang tersebut bukan diperbuat oleh Iran. Ia menambahkan bahwa konflik telah menimbulkan banyak persoalan ekonomi dan menyatakan kekhawatiran dampaknya akan lebih serius jika perang berlanjut.