BERITA TERKINI
OJK Peringatkan Dampak Konflik AS–Iran Jika Berlarut, Namun Perbankan RI Masih Solid

OJK Peringatkan Dampak Konflik AS–Iran Jika Berlarut, Namun Perbankan RI Masih Solid

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi menimbulkan dampak yang lebih luas terhadap perekonomian global maupun Indonesia apabila berlangsung berkepanjangan. Eskalasi konflik disebut telah menekan pasar keuangan global dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan ketegangan geopolitik global menjadi perhatian serius industri keuangan karena dapat memicu inflasi, pelemahan nilai tukar, serta gejolak pasar keuangan.

Menurut Dian, tensi geopolitik meningkat dalam sepekan terakhir seiring eskalasi konflik setelah Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke Teheran. Ia menyebut dampak konflik sudah terasa pada pasar saham di Asia yang anjlok akibat aksi panic-selling, di tengah kekhawatiran konflik akan memicu inflasi dan menekan ekonomi global. OJK menilai dampak terhadap perekonomian global dan domestik dapat semakin luas jika perang berlangsung lama.

Pernyataan itu disampaikan bersamaan dengan rilis Survei Orientasi Bisnis Perbankan OJK (SBPO) triwulan I-2026. Survei yang dilakukan pada Januari 2026 tersebut melibatkan 93 bank responden, dengan porsi total aset mencapai 94,17% dari total aset bank umum berdasarkan data Desember 2025.

Hasil survei menunjukkan Indeks Orientasi Bisnis Perbankan (IBP) triwulan I-2026 berada pada level 56, atau masuk zona optimistis. Angka ini mencerminkan keyakinan pelaku industri bahwa perbankan masih mampu menjaga kinerja dan mengelola risiko di tengah tekanan global.

Dian menyatakan optimisme itu didorong proyeksi pertumbuhan kinerja perbankan serta keyakinan bank masih cukup mampu mengelola risiko, meski terdapat ekspektasi peningkatan inflasi dan pelemahan nilai tukar.

Namun, ekspektasi terhadap kondisi makroekonomi menurun. Indeks Ekspektasi Kondisi Makroekonomi (IKM) tercatat 45 atau berada di zona pesimistis. Dian menjelaskan, peningkatan inflasi dipengaruhi faktor musiman seperti Ramadan, Idulfitri, dan Tahun Baru Imlek yang mendorong kenaikan harga barang dan jasa.

Selain faktor musiman, terdapat pula low based effect dari tahun sebelumnya ketika diskon tarif listrik diberlakukan dan tidak lagi terjadi pada triwulan I-2026. Di saat yang sama, nilai tukar rupiah diperkirakan menghadapi tekanan seiring tingginya tensi geopolitik global.

Meski demikian, mayoritas responden survei menilai risiko sektor perbankan masih dapat dikendalikan. Hal ini tercermin dari Indeks Persepsi Risiko (IPR) sebesar 57 yang berada pada zona optimistis.

OJK juga mencatat kualitas kredit diperkirakan tetap terjaga dengan Posisi Devisa Neto (PDN) berada pada level rendah. Kondisi ini didukung oleh posisi aset dan tagihan valuta asing yang lebih besar dibandingkan kewajiban valuta asing.

Dari sisi likuiditas, industri perbankan diperkirakan tetap stabil seiring proyeksi pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang lebih tinggi dibandingkan penyaluran kredit. Kondisi tersebut diperkirakan meningkatkan arus kas bersih (net cashflow) pada triwulan I-2026. Dian menambahkan, cash inflow juga diperkirakan meningkat seiring dana pemerintah daerah yang mulai masuk pada triwulan I-2026.

Ekspektasi terhadap kinerja perbankan turut tercermin dari Indeks Ekspektasi Kinerja (IEK) yang mencapai 67, juga berada di zona optimistis. Pertumbuhan kredit diperkirakan berlanjut didorong meningkatnya permintaan pembiayaan serta ekspansi kredit dari bank.

OJK mencatat sektor industri pengolahan masih menjadi kontributor terbesar penyaluran kredit perbankan dengan pertumbuhan 6,60% secara tahunan (year on year/yoy) pada Januari 2026.

Dian menegaskan responden survei memiliki perhatian besar terhadap kondisi global yang berpotensi berlangsung lama (prolonged) dan bahkan memburuk, serta implikasinya terhadap kinerja ekonomi Indonesia. Ia menyebut meski indikator perbankan berada dalam posisi yang resilien, perbankan tetap membutuhkan ekosistem bisnis yang dinamis agar dapat tumbuh dengan baik.

OJK memperkirakan ekonomi Indonesia pada 2026 tetap tumbuh solid, didukung stimulus fiskal dan kebijakan moneter yang akomodatif. Konsumsi rumah tangga dan sektor manufaktur diproyeksikan tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional. Selain itu, mayoritas bank responden juga optimistis penyaluran kredit kepada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) akan meningkat pada triwulan I-2026.