Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memperingatkan meningkatnya tekanan terhadap ekonomi global seiring memanasnya konflik di Timur Tengah. Dalam OECD Economic Outlook Interim Report edisi Maret 2026 bertajuk Testing Resilience, OECD menyoroti risiko gangguan distribusi energi dunia, terutama jika jalur pengiriman di Selat Hormuz terdampak.
OECD menyatakan lonjakan harga energi dan gangguan pasokan komoditas berpotensi mendorong kenaikan biaya usaha dan inflasi konsumen, yang pada akhirnya menekan pertumbuhan ekonomi. “Lonjakan harga energi dan gangguan pasokan komoditas akan meningkatkan biaya bisnis dan mendorong inflasi konsumen, dengan konsekuensi negatif terhadap pertumbuhan,” tulis OECD dalam laporan tersebut, dikutip Senin (30/3/2026).
Dalam proyeksinya, OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi global melambat menjadi 2,9 persen pada 2026, sebelum sedikit meningkat menjadi 3,0 persen pada 2027. Perlambatan ini terjadi meski perekonomian global sebelumnya dinilai cukup kuat, antara lain ditopang investasi di sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) serta kondisi fiskal dan keuangan yang sempat mendukung pertumbuhan.
Namun, kenaikan harga energi disebut menjadi faktor utama yang memperbesar tekanan. Biaya produksi meningkat dan daya beli melemah, sehingga dampaknya meluas ke permintaan global dan ikut menekan aktivitas ekonomi.
Dari sisi harga, inflasi di negara-negara G20 diproyeksikan mencapai 4,0 persen pada 2026, lebih tinggi dibanding perkiraan sebelumnya. Inflasi diperkirakan turun menjadi 2,7 persen pada 2027, meski tekanan harga dinilai masih dipengaruhi lonjakan energi yang merambat ke harga pangan dan biaya produksi.
OECD juga mencatat ekspektasi inflasi jangka menengah mulai meningkat di sejumlah negara besar, yang mencerminkan tekanan harga belum sepenuhnya mereda. Menurut OECD, arah perekonomian global sangat bergantung pada perkembangan konflik, karena gangguan pasokan energi yang berkepanjangan dapat memperbesar dampak terhadap inflasi dan pertumbuhan.
Selain itu, volatilitas pasar keuangan dilaporkan ikut meningkat. Tekanan disebut lebih kuat terasa di kawasan Asia, meski kondisi global secara umum masih relatif longgar. Dalam situasi ini, OECD menilai bank sentral perlu menjaga stabilitas inflasi, sementara kebijakan moneter di berbagai negara mulai bergerak dengan arah yang berbeda.

