Ketidakpastian ekonomi global belakangan mendorong investor lebih berhati-hati menempatkan dana. Gejolak geopolitik, pelemahan rupiah, serta fluktuasi pasar saham membuat instrumen yang dinilai lebih stabil kembali menjadi perhatian, salah satunya obligasi.
Perencana Keuangan Advisors Alliance Group Indonesia, Dandy, menilai obligasi masih layak dipertimbangkan di tengah kondisi saat ini. Menurutnya, imbal hasil (yield) obligasi masih lebih tinggi dibanding suku bunga acuan, sementara pergerakannya cenderung lebih stabil ketika pasar saham Indonesia dinilai masih volatil.
“Makanya banyak orang yang tarik uang dari pasar saham dan pindah ke yang tidak terlalu volatil untuk sekarang,” kata Dandy.
Meski dinilai relatif aman, Dandy mengingatkan obligasi tetap memiliki risiko, terutama jika suku bunga acuan naik. Pelemahan rupiah, menurutnya, dapat membuka peluang Bank Indonesia (BI) menaikkan BI Rate untuk menjaga daya tarik investasi di Indonesia. Dalam kondisi tersebut, harga jual obligasi—khususnya yang bertenor panjang—berpotensi tertekan.
“Ketika BI Rate naik, obligasi yang tenornya panjang bisa mengalami penurunan harga jual,” ujarnya.
Karena itu, investor perlu memahami hubungan suku bunga dan harga obligasi. Semakin panjang tenor, umumnya semakin sensitif obligasi terhadap perubahan suku bunga.
Dandy juga menyebut obligasi cocok bagi investor yang mengincar pendapatan rutin dari kupon. Jika tujuan investasi adalah passive income atau dana pensiun, obligasi tenor panjang dapat menjadi pilihan, terutama bila investor berencana menahan hingga jatuh tempo.
“Kalau dibeli sampai maturity untuk terima kuponnya, maka itu bukan jadi masalah,” kata Dandy.
Untuk investor pemula, ia menyarankan memilih obligasi pemerintah seperti ORI, SBR, atau Sukuk Ritel. Instrumen tersebut dijamin pemerintah sehingga risiko gagal bayar dinilai sangat kecil.
“Saran saya untuk pemula ambil saja obligasi pemerintah seperti ORI, SBR ataupun Sukuk,” ujarnya.
Perencana keuangan Andi Nugroho turut menilai Surat Utang Negara (SUN) ritel masih prospektif hingga akhir 2026. Ia menyebut SUN seperti ORI dan Sukuk Ritel termasuk instrumen yang stabil di tengah ketidakpastian global, sekaligus menawarkan imbal hasil yang dinilai lebih menarik dibanding deposito.
“Dibandingkan dengan instrumen investasi lainnya, SUN seperti ORI dan Sukuk Ritel merupakan instrumen yang paling stabil,” ujar Andi.
“Dibandingkan dengan bunga deposito, imbal hasil dari SUN masih lebih tinggi,” tambahnya.
Selain memilih penerbit, investor juga perlu memahami jenis kupon obligasi. Dandy menjelaskan obligasi fixed rate menawarkan kupon tetap, sedangkan floating rate dapat berubah mengikuti suku bunga acuan. Menurutnya, pilihan dapat disesuaikan dengan preferensi dan situasi suku bunga.
“Kalau belum ada kepastian suku bunga bisa pilih yang floating, tapi kalau tipe orang yang suka pasti-pasti saja ambil yang fixed rate juga tidak apa-apa,” kata Dandy.
Dengan mempertimbangkan stabilitas, risiko suku bunga, pilihan tenor, serta jenis kupon, obligasi—khususnya obligasi pemerintah—dinilai tetap menjadi opsi bagi investor yang ingin menjaga kestabilan aset sekaligus memperoleh pendapatan rutin di tengah dinamika ekonomi global.