BERITA TERKINI
BI: Indeks Keyakinan Konsumen April 2026 Naik Tipis, Namun Tren Sejak Awal Tahun Melemah

BI: Indeks Keyakinan Konsumen April 2026 Naik Tipis, Namun Tren Sejak Awal Tahun Melemah

Jakarta — Bank Indonesia (BI) mencatat optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi Indonesia masih bertahan pada April 2026. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tercatat naik tipis ke level 123,0 dari 122,9 pada Maret 2026. Meski demikian, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan Januari 2026 yang berada di 127,0, sehingga mengindikasikan laju optimisme mulai melemah dalam beberapa bulan terakhir.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyampaikan bahwa terjaganya keyakinan konsumen pada April terutama ditopang oleh persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini yang membaik dibandingkan bulan sebelumnya.

“Terjaganya keyakinan konsumen pada April 2026 terutama ditopang oleh peningkatan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) lebih tinggi dibandingkan indeks bulan sebelumnya. Sementara indeks ekspektasi konsumen juga terjaga di level optimistis meski lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya,” ujar Denny dalam keterangan resmi, Senin (4/5/2026).

BI mencatat Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) naik menjadi 116,5 pada April 2026 dari 115,4 pada Maret 2026. Kenaikan ini mencerminkan penilaian konsumen bahwa kondisi ekonomi jangka pendek dirasakan relatif lebih baik.

Namun, ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan justru melemah. Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) turun menjadi 129,6 dari 130,4 pada bulan sebelumnya. Penurunan ini menunjukkan kehati-hatian yang mulai muncul dalam memandang prospek ekonomi beberapa bulan mendatang.

Dalam laporan tersebut, kehati-hatian konsumen dikaitkan dengan sejumlah faktor yang memengaruhi psikologi masyarakat, seperti tekanan harga kebutuhan pokok, ketidakpastian ekonomi global, dan gejolak pasar keuangan.

Walau IKK masih berada jauh di atas ambang optimistis 100, tren penurunan dibandingkan awal tahun menjadi sinyal bahwa konsumsi rumah tangga—yang selama ini menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi—mulai menghadapi tantangan. Kondisi ini menjadi perhatian bagi pemerintah dan otoritas moneter di tengah upaya menjaga pertumbuhan ekonomi tetap stabil di atas lima persen pada 2026.