Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini menegaskan penguatan industri nasional perlu dilakukan secara terintegrasi melalui kebijakan yang berpihak pada pengembangan teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta dukungan terhadap pelaku usaha.
Menurut Novita, penguatan sektor industri penting karena perannya sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi nasional di tengah dinamika ekonomi global yang semakin kompetitif. Ia menilai sektor industri memiliki posisi strategis dalam menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan memperkuat daya saing Indonesia di pasar global.
Novita juga menyebut industri tidak hanya menjadi tulang punggung perekonomian, tetapi turut berperan dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Karena itu, pemerintah dinilai perlu memastikan kebijakan industri berjalan konsisten, termasuk melalui dukungan regulasi, investasi, serta penguatan rantai pasok dalam negeri.
Sebagai anggota Komisi VII DPR yang membidangi energi, riset, teknologi, dan perindustrian, Novita menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan lembaga riset untuk mendorong inovasi serta meningkatkan produktivitas industri nasional.
“Dengan sinergi tersebut, Indonesia diharapkan mampu memanfaatkan potensi sumber daya yang dimiliki secara optimal,” kata Novita saat berbicara dalam Dialektika Demokrasi bertema “Strategi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen” yang digelar KWP bersama Biro Pemberitaan DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (12/3/2026).
Ia menambahkan, pengembangan industri nasional sebaiknya tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan aspek keberlanjutan, pemerataan pembangunan, dan kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, pendekatan tersebut dibutuhkan agar pertumbuhan industri memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia di masa depan.
Industri agro dinilai berperan besar
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian Merrijantij Punguan Pintaria menyampaikan bahwa industri agro menjadi salah satu motor utama untuk mendorong pencapaian target pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen. Ia mengatakan, meski menghadapi tekanan global dan kendala struktural, sektor ini masih menunjukkan kinerja kuat dari sisi perdagangan, investasi, dan penyerapan tenaga kerja.
Merrijantij menyebut industri agro masih menjadi penopang utama sektor manufaktur nasional. Pada 2025, pertumbuhan industri agro tercatat 4,95 persen, sedikit menurun dibandingkan 5,20 persen pada 2024. Ia menilai perlambatan tersebut dipengaruhi kondisi ekonomi global yang berdampak pada permintaan dan rantai pasok industri.
Meski demikian, sektor ini tetap berkontribusi besar terhadap perekonomian. Neraca perdagangan industri agro mencatat surplus 57,54 miliar dolar AS pada 2025, melampaui surplus industri pengolahan nonmigas secara keseluruhan yang mencapai 37,86 miliar dolar AS.
“Industri agro memberikan kontribusi sebesar 52,09 persen terhadap total industri pengolahan nonmigas,” kata Merrijantij.
Dari sisi investasi, nilai investasi industri agro sepanjang 2025 mencapai Rp191,73 triliun atau sekitar 35,84 persen dari total investasi di sektor industri pengolahan. Angka tersebut terdiri dari penanaman modal asing sebesar Rp91 triliun dan penanaman modal dalam negeri sekitar Rp100 triliun. Merrijantij menilai capaian itu mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek industri agro Indonesia.
Selain berkontribusi pada devisa, industri agro juga berperan besar dalam penyerapan tenaga kerja. Sektor ini menyerap sekitar 10 juta pekerja secara langsung di berbagai subsektor.
Namun, Kementerian Perindustrian mencatat tingkat utilisasi atau kapasitas terpasang industri agro baru sekitar 57,28 persen. Merrijantij menilai hal itu menunjukkan masih adanya ruang untuk meningkatkan produksi, baik untuk memenuhi pasar domestik maupun ekspor.
Ia juga menyinggung Indeks Kepercayaan Industri (IKI) atau PMI manufaktur yang dirilis Kemenperin. Pada Februari 2026, indeks tersebut berada di atas 50, yang menandakan sektor industri masih berada dalam fase ekspansi.
Peluang dan tantangan
Merrijantij menilai Indonesia memiliki keunggulan struktural untuk memperkuat industri agro, mulai dari kekayaan sumber daya alam hingga besarnya pasar domestik. Sejumlah komoditas unggulan seperti kelapa sawit, kelapa, rumput laut, kopi, rempah-rempah, hingga hasil perikanan dinilai memiliki potensi untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.
“Dengan populasi lebih dari 260 juta jiwa, pasar domestik Indonesia sangat besar. Ini menjadi peluang bagi pengembangan industri berbasis bahan baku lokal,” ujarnya.
Pemerintah, kata dia, turut mendorong kebijakan strategis seperti program biodiesel B50 untuk memperkuat pemanfaatan komoditas domestik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasar ekspor. Di sisi lain, meningkatnya kesadaran konsumen terhadap kualitas produk dan sertifikasi halal dinilai menjadi peluang tambahan untuk memperluas pasar produk agro Indonesia.
Meski demikian, Merrijantij mengakui industri agro masih menghadapi tantangan mendasar, termasuk ketergantungan impor bahan baku tertentu seperti kakao, kopi, dan kedelai. Menurutnya, kondisi itu terjadi karena pertumbuhan industri tidak selalu diikuti peningkatan produksi sektor pertanian secara seimbang.
Tantangan lain meliputi keterbatasan teknologi dan inovasi, serta tingginya biaya faktor produksi seperti energi, air, logistik, dan bahan baku impor. Kondisi tersebut membuat harga pokok produksi industri di Indonesia relatif tinggi dibandingkan produk impor sehingga menekan daya saing di pasar global.
Kualitas sumber daya manusia juga menjadi perhatian, terutama dalam menghadapi percepatan transformasi teknologi di sektor industri. Karena itu, Merrijantij menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat untuk memperkuat industri agro melalui peningkatan produksi bahan baku domestik, penguatan inovasi teknologi, efisiensi biaya produksi, serta peningkatan kualitas SDM.
“Dengan langkah-langkah tersebut, industri agro diharapkan dapat terus menjadi penggerak utama perekonomian nasional sekaligus mendukung target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen,” kata Merrijantij.

