Piala Dunia 2026 kembali memunculkan perdebatan lama: sejauh mana sepak bola dapat benar-benar netral dari politik. Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko itu dinilai tidak bisa sepenuhnya lepas dari dinamika internasional yang kompleks.
Salah satu sorotan muncul dari konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, terutama karena salah satu negara yang berkonflik telah memastikan diri lolos ke putaran final. Situasi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai komitmen netralitas dalam sepak bola, yang selama ini ditegaskan FIFA sebagai ruang pemersatu yang melampaui batas politik.
Namun, pengamat sepak bola Aji Soko menilai bahwa dalam praktiknya keterkaitan antara sepak bola dan politik kerap tak terelakkan. Menurutnya, realitas di lapangan menunjukkan adanya tarik-menarik kepentingan yang dapat memengaruhi penyelenggaraan turnamen.
“Sepak bola, termasuk Piala Dunia, tidak pernah benar-benar lepas dari dinamika politik internasional,” kata Aji.
Ia menilai, meski Piala Dunia sering diposisikan sebagai simbol persatuan, kondisi global saat ini justru berpotensi menghadirkan tantangan yang berlawanan. Ketegangan antarnegara dinilai dapat berdampak pada jalannya turnamen, termasuk kemungkinan pembatasan terhadap negara tertentu.
“Kalau ada negara yang sudah lolos tapi kemudian tidak bisa tampil karena faktor politik, itu jelas menunjukkan bahwa netralitas sedang diuji,” ujarnya.
Selain itu, isu standar ganda juga kembali mencuat. Aji menyebut, sebagian pihak menilai FIFA tidak selalu konsisten dalam menerapkan aturan terhadap negara-negara yang terlibat konflik.
“Ini yang kemudian memunculkan persepsi adanya standar ganda. Ketika satu negara dikenai sanksi, sementara yang lain tidak, publik tentu mempertanyakan keadilan,” katanya.
Di sisi lain, FIFA tetap menegaskan bahwa seluruh peserta harus diperlakukan secara setara, dan negara tuan rumah wajib menjamin keamanan tanpa diskriminasi. Meski demikian, tantangan di lapangan dinilai tidak sederhana.
Selain dampak konflik internasional, perhatian juga tertuju pada kondisi keamanan di negara tuan rumah, terutama di Meksiko yang disebut tengah menghadapi persoalan internal. Menurut Aji, situasi ini menjadi ujian besar bagi FIFA dalam menjaga integritas kompetisi.
“Piala Dunia 2026 bukan hanya soal pertandingan sepak bola, tetapi juga bagaimana FIFA menjaga integritas dan kepercayaan dunia,” tegasnya.

