BERITA TERKINI
Mudik dan Lebaran 2026 Dorong Konsumsi, Jadi Penyangga Pertumbuhan Ekonomi Awal Tahun

Mudik dan Lebaran 2026 Dorong Konsumsi, Jadi Penyangga Pertumbuhan Ekonomi Awal Tahun

Arus mudik dan perayaan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah dinilai kembali menjadi penggerak penting ekonomi nasional pada awal 2026. Mobilisasi jutaan warga memicu lonjakan konsumsi rumah tangga dan memperkuat ketahanan ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global.

Peningkatan belanja masyarakat selama periode Lebaran disebut ikut mendorong perputaran uang yang lebih merata. Aktivitas ekonomi tidak hanya terkonsentrasi di pusat industri, tetapi meluas hingga ke berbagai daerah, termasuk wilayah yang selama ini tidak menjadi pusat pertumbuhan.

Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai akselerasi konsumsi rumah tangga menunjukkan tren yang lebih baik dibanding periode sebelumnya. Ia menyebut meski terdapat kenaikan harga minyak global, minat belanja masyarakat pada kuartal ini tetap terjaga. Menurutnya, Lebaran berperan sebagai penyangga agar ritme pertumbuhan ekonomi nasional tidak turun tajam.

Yusuf menambahkan, sektor transportasi, perdagangan ritel, dan pariwisata daerah menjadi pihak yang paling merasakan dampak tingginya mobilitas mudik. Peningkatan penjualan busana, makanan dan minuman, serta jasa logistik juga dinilai memberi kontribusi berarti terhadap pendapatan nasional.

Ia turut menyoroti kebijakan fiskal pemerintah yang dinilai lebih berani dalam mengalirkan belanja negara pada awal tahun. Langkah tersebut disebut menciptakan efek pengganda yang memperkuat daya beli. Namun demikian, Yusuf mengingatkan perlunya kewaspadaan terhadap potensi hambatan inflasi yang dapat muncul dari sisi harga barang.

Dari sisi dunia usaha, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Otonomi Daerah Sarman Simanjorang menyatakan optimistis target pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2026 pada kisaran 5,4 hingga 5,5 persen dapat tercapai. Ia memproyeksikan konsumsi rumah tangga selama libur panjang Lebaran berpotensi meningkat 10 hingga 15 persen, melanjutkan momentum konsumsi yang telah terbentuk sejak perayaan Natal, Tahun Baru, dan Imlek.

Sarman menekankan peran pemerintah dalam menjaga stabilitas psikologi konsumen di tengah ketegangan geopolitik internasional. Menurutnya, kepastian stok bahan bakar minyak dan gas selama mudik berpengaruh terhadap keberanian masyarakat untuk membelanjakan uang di daerah asal.

Ia berpandangan bahwa jaminan ketersediaan energi dapat mengurangi kekhawatiran publik terhadap dampak konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang dinilai berisiko mengganggu rantai pasok global. Kepercayaan diri masyarakat untuk bertransaksi di daerah masing-masing disebut menjadi kunci perputaran uang yang lebih berkualitas.

Pemerintah juga memperkuat upaya merangsang transaksi domestik melalui program stimulus. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan dukungan terhadap inisiatif yang bertujuan menjaga daya beli pada hari besar keagamaan, termasuk melalui program Belanja di Indonesia Aja.

Program tersebut melibatkan ratusan pusat perbelanjaan dan puluhan ribu toko ritel, dengan target nilai transaksi lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya. Airlangga memperkirakan transaksi domestik dapat melampaui Rp53 triliun atau naik sekitar 20 persen.

Airlangga menilai kombinasi lonjakan konsumsi musiman dan stimulus belanja dapat menjaga stabilitas aktivitas ekonomi meski risiko eksternal masih membayangi. Pada saat yang sama, penyerapan tenaga kerja musiman di daerah serta meningkatnya omzet UMKM, termasuk kuliner dan kerajinan tangan, disebut menjadi bukti bahwa momentum Lebaran turut mendorong produktivitas dan menguatkan daya beli, terutama pada kelompok menengah-bawah.